KEUTAMAAN MENUNTUT ILMU AGAMA

Dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhu dia berkata: Aku
mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين

“Barangsiapa yang Allah kehendaki baginya kebaikan maka Dia akan
memahamkan baginya agama (Islam).”

Hadits yang mulia ini menunjukkan agungnya kedudukan ilmu agama dan
keutamaan yang besar bagi orang yang mempelajarinya, sehingga Imam
an-Nawawi dalam kitabnya Riyadhush Shalihin , pada pembahasan “Keutamaan
Ilmu” mencantumkan hadits ini sebagai hadits yang pertama.

Imam an-Nawawi berkata: “Hadits ini menunjukkan keutamaan ilmu (agama)
dan keutamaan mempelajarinya, serta anjuran untuk menuntut ilmu.”

Imam Ibnu Hajar al-’Asqalaani berkata: “Dalam hadits ini terdapat
keterangan yang jelas tentang keutamaan orang-orang yang berilmu di atas
semua manusia, dan keutamaan mempelajari ilmu agama di atas ilmu-ilmu
lainnya.”

Mutiara hikmah yang dapat kita petik dari hadits ini adalah:

1. Ilmu yang disebutkan keutamaannya dan dipuji oleh Allah Ta’ala dan
Rasul-Nya adalah ilmu agama.
2. Salah satu ciri utama orang yang akan mendapatkan taufik dan
kebaikan dari Allah Ta’ala adalah dengan orang tersebut berusaha
mempelajari dan memahami petunjuk Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu
‘alaihi wa sallam dalam agama Islam.
3. Orang yang tidak memiliki keinginan untuk mempelajari ilmu agama
akan terhalangi untuk mendapatkan kebaikan dari Allah Ta’ala.
4. Yang dimaksud dengan pemahaman agama dalam hadits ini adalah
ilmu/pengetahuan tentang hukum-hukum agama yang mewariskan amalan
shaleh, karena ilmu yang tidak dibarengi dengan amalan shaleh bukanlah
merupakan ciri kebaikan.
5. Memahami petunjuk Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi
wa sallam dengan benar merupakan penuntun bagi manusia untuk mencapai
derajat takwa kepada Allah Ta’ala.
6. Pemahaman yang benar tentang agama Islam hanyalah bersumber dari
Allah semata, oleh karena itu hendaknya seorang muslim disamping giat
menuntut ilmu, selalu berdoa dan meminta pertolongan kepada Allah Ta’ala
agar dianugerahkan pemahaman yang benar dalam agama.

***
Penulis: Ustadz Abdullah Taslim, M.A.
Artikel www.muslim.or.id

ALANGKAH INDAHNYA ISLAM

Tema keindahan Islam sangat luas, panjang lebar sulit untuk diringkas
dengan bilangan waktu yang tersisa. Sebelumnya, yang perlu kita ketahui
adalah firman Allah.

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللّهِ الإِسْلاَمُ

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (Qs.
Ali Imran: 19)

Juga firman-Nya.

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِيناً فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ

“Barang siapa yang mencari selain Islam sebagai agama, maka tidak akan
diterima.” (Qs. Ali Imran: 85)

Jadi, agama yang dibawa oleh para nabi dan menjadi sebab Allah mengutus
para rasul adalah dienul Islam. Allah mengutus para rasul untuk mengajak
agar orang kembali kepada Allah. Para rasul datang untuk memperkenalkan
Allah. Barang siapa menaati mereka, maka para rasul akan memberikan
kabar gembira kepadanya. Adapun orang yang menentangnya, maka para rasul
akan menjadi peringatan baginya. Para rasul diperintahkan untuk
menegakkan agama di dunia ini.

Allah berfirman.

شَرَعَ لَكُم مِّنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحاً وَالَّذِي أَوْحَيْنَا
إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ
أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ
مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَن يَشَاءُ
وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَن يُنِيبُ

“Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah
diwasiatkan kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa
yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa, yaitu ‘Tegakkan
agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya.’ Amat berat bagi
orang-orang musyrik agama yang kamu seru kepadanya. Allah menarik kepada
agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada
(agama)Nya orang yang kembali (kepada)-Nya.” (Qs. Asy-Syura: 13)

Islam adalah agama yang dipilih Allah untuk makhluk-Nya. Agama yang
dibawa Nabi merupakan agama yang paripurna. Allah tidak akan menerima
agama selainnya. Jadi agama ini adalah agama penutup, yang dicintai dan
diridhaiNya.

Allah berfirman.

يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَن يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَن يُنِيبُ

“Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi
petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada)-Nya.” (Qs.
Asy-Syura: 42)

Sebagian ahli ilmu mengatakan, Sebelumnya aku mengira bahwa orang yang
bertaubat kepada Allah, maka Allah akan menerima taubatnya. Dan orang
yang meridhoi Allah, niscaya Allah akan meridhoinya. Dan barang siapa
yang mencintai Allah, niscaya Allah akan mencintainya. Setelah aku
membaca Kitabullah, aku baru mengetahui bahwa kecintaan Allah mendahului
kecintaan hamba pada-Nya dengan dasar ayat,

يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ

“Dia mencintai mereka dan mereka mencitai-Nya.” (Qs. Al Maaidah: 54)

Ridha Allah kepada hambaNya mendahului ridha hamba kepada-Nya dengan
dasar ayat,

رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ

“Allah meridhoi mereka dan mereka meridhoi-Nya.” (Qs. At-Taubah: 100)

Dan aku mengetahui bahwa penerimaan taubat dari Allah, mendahului taubat
seorang hamba kepada-Nya dengan dasar ayat,

ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوبُواْ إِنَّ

“Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya.” (Qs.
At-Taubah: 118)

Demikianlah, bila Allah mencintai seorang manusia, maka Dia akan
melapangkan dadanya untuk Islam. Dalam Shahihain, dari Abu Hurairah, ia
berkata, Rasulullah bersabda. “Demi Zat yang jiwaku berada di
tangan-Nya. Tidak ada seorang Yahudi dan Nasrani yang mendengarku dan
tidak beriman kepadaku, kecuali surga akan haram buat dirinya.” (Hadits
Riwayat Muslim)

Karena itu, agama yang diterima Allah adalah Islam. Umat Islam harus
menjadikannya sebagai kendaraan. Persatuan harus bertumpu pada tauhid
dan syahadatain. Islam agama Allah. Kekuatannya terletak pada Islam itu
sendiri. Allah menjamin penjagaan terhadapnya.

Allah berfirman,

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran dan sesungguhnya Kami
benar-benar memeliharanya.” (Qs. Al-Hijr: 9)

Sedangkan agama selainnya, jaminan ada di tangan tokoh-tokoh agamanya.

Allah berfirman.

بِمَا اسْتُحْفِظُواْ مِن كِتَابِ اللّهِ

“Disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab.” (Qs. Al
Maaidah: 44)

Kalau mereka tidak menjaganya, maka akan berubah. Ia bagaikan sesuatu
yang mati. Harus digotong. Tidak dapat menyebar, kecuali dengan dorongan
sekian banyak materi. Sedangkan Islam pasti tetap akan terjaga. Karena
itu, masa depan ada di tangan Islam. Islam pasti menyebar ke seantero
dunia. Allah telah menjelaskannya dalam Al Quran, demikian juga Nabi
dalam Sunnahnya. Kesempatan kali ini cukup sempit, tidak memungkinkan
untuk menyebutkan seluruh dalil. Tapi saya ingin mengutip sebuah ayat.

مَن كَانَ يَظُنُّ أَن لَّن يَنصُرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
فَلْيَمْدُدْ بِسَبَبٍ إِلَى السَّمَاء ثُمَّ لِيَقْطَعْ فَلْيَنظُرْ هَلْ
يُذْهِبَنَّ كَيْدُهُ مَا يَغِيظُ

“Barang siapa yang menyangka bahwa Allah sekali-kali tidak menolongnya
(Muhammad) di dunia dan akhirat, maka hendaklah ia merentangkan tali ke
langit, kemudian hendaklah ia melaluinya kemudian hendaklah ia pikirkan
apakah tipu dayanya itu dapat melenyapkan apa yang menyakitkan hatinya.”
(Qs. Al-Hajj: 15)

Dalam Musnad Imam Ahmad dari sahabat Abdullah bin Amr, kami bertanya
kepada Nabi, “Kota manakah yang akan pertama kali ditaklukkan?
Konstantinopel (di Turki) atau Rumiyyah (Roma)?” Beliau shallallahu
‘alaihi wa sallam menjawab, “Konstantinopel-lah yang akan ditaklukkan
pertama kali, kemudian disusul Rumiyyah.” Yaitu Roma yang terletak di
Italia. Islam pasti akan meluas di seluruh penjuru dunia. Pasalnya,
Islam bagaikan pohon besar yang hidup lagi kuat, akarnya menyebar
sepanjang sejarah semenjak Nabi Adam hingga Nabi Muhammad shallallahu
‘alaihi wa sallam.

Islam adalah agama (yang sesuai dengan) fitrah. Kalau anda ditanya,
bagaimana engkau mengetahui Robb-mu. Jangan engkau jawab, “dengan
akalku,” tapi jawablah, “dengan fitrahku.” Oleh karena itu, ketika ada
seorang atheis yang mendatangi Abu Hanifah dan meminta dalil bahwa Allah
adalah Haq (benar), maka beliau menjawab dengan dalil fitrah. “Apakah
engkau pernah naik kapal dan ombak mempermainkan kapalmu?” Ia menjawab,
“Pernah.” (Abu Hanifah bertanya lagi), “Apakah engkau merasa akan
tenggelam?” Jawabnya, “Ya.” “Apakah engkau meyakini ada kekuatan yang
akan menyelamatkanmu?” “Ya,” jawabnya. “Itulah fitrah yang telah
diciptakan dalam dirimu. Kekuatan ada dalam dirimu itulah kekuatan
fitrah Allah. Manusia mengenal Allah dengan fitrahnya. Fitrah ini
terkandung dalam dada setiap insan. Dasarnya hadits Muttafaq ‘Alaih.
Nabi bersabda: “Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang
tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nashrani atau Majusi.”

Akal itu sendiri bisa mengetahui bahwa Allah adalah Al-Haq. Namun ia
secara mandiri tidak akan mampu mengetahui apa yang dicintai dan
diridhoi Allah. Apakah mungkin akal semata saja dapat mengetahui bahwa
Allah mencintai sholat lima waktu, haji, puasa di bulan tertentu? Karena
itu, fitrah itu perlu dipupuk dengan gizi yang berasal dari wahyu yang
diwahyukan kepada para nabi-Nya.

Sekali lagi, nikmat dan anugerah paling besar yang diterima seorang
hamba dari Allah ialah bahwa Allah-lah yang memberikan jaminan untuk
menetapkan syariat-Nya. Dialah yang menjelaskan apa yang dicintai dan
diridhaiNya. Inilah nikmat terbesar dari Allah kepada hamba-Nya. Bila
ada orang yang beranggapan ada kebaikan dengan keluar dari garis ini dan
mengikuti hawa nafsunya, maka ia telah keliru. Sebab kebaikan yang
hakiki dalam kehidupan ini maupun kehidupan nanti hanyalah dengan
menaati seluruh yang datang dari Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.

Syariat Islam datang untuk menjaga lima perkara. Allah telah
mensyariatkan banyak hal untuk menegaskan penjagaan ini. Islam datang
untuk menjaga agama. Karena itu, Allah mengharamkan syirik, baik yang
berupa thawaf di kuburan, istighatsah kepada orang yang dikubur serta
segala hal yang bisa menjerumuskan ke dalam syirik, dan mengharamkan
untuk mengarahkan ibadah, apapun bentuknya, (baik) secara zahir maupun
batin kepada selain Allah. Oleh sebab itu, kita harus memahami makna
ringkas syahadatain yang kita ucapkan.

Syahadat “Laa Ilaaha Illa Allah”, maknanya: tidak ada sesembahan yang
berhak disembah kecuali Allah, ibadah hanya milik Allah. Ini bagian dari
pesona agama kita. Allah mengharamkan akal, hati dan fitrah untuk
melakukan peribadatan dan istijabah (ketaatan mutlak) kepada selain-Nya.
Sedangkan makna syahadat “Wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah”,
(yakni) tidak ada orang yang berhak diikuti kecuali Muhammad Rasulullah.
Kita tidak boleh mengikuti rasio, tradisi atau kelompok jika menyalahi
Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah. Maka seorang muslim, di samping tidak
beribadah kecuali kepada Allah, juga tidak mengikuti ajaran kecuali
ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia tidak mengikuti
ra’yu keluarga, ra’yu kelompok, ra’yu jama’ah, ra’yu tradisi dan
lain-lain jika menyalahi Al Quran dan Sunnah.

Dakwah Salafiyah yang kita dakwahkan ini adalah dinullah yang suci dan
murni, yang diturunkan oleh Allah pada kalbu Nabi. Jadi dalam berdakwah,
kita tidak mengajak orang untuk mengikuti kelompok ataupun individu.
Tetapi mengajak untuk kembali kepada Al Quran dan Sunnah. Namun, memang
telah timbul dakhon (kekeruhan) dan tumbuh bid’ah. Sehingga kita harus
menguasai ilmu syar’i. Kita beramal (dengan) meneladani ungkapan Imam
Malik, dan ini, juga perkataan Imam Syafi’i, “Setiap orang bisa diambil
perkataannya atau ditolak, kecuali pemilik kubur ini, yaitu Rasulullah.”

Telah saya singgung di atas, agama datang untuk menjaga lima perkara.
Penjagaan agama dengan mengharamkan syirik dan segala sesuatu yang
menimbulkan akses ke sana. Kemudian penjagaan terhadap badan dengan
mengharamkan pembunuhan dan gangguan kepada orang lain. Juga datang
untuk memelihara akal dengan mengharamkan khamar, minuman keras, candu
dan rokok. Datang untuk menjaga kehormatan dengan mengharamkan zina,
percampuran nasab dan ikhtilath (pergaulan bebas). Juga menjaga harta
dengan mengharamkan perbuatan tabdzir (pemborosan) dan gaya hidup
hedonisme. Penjagaan terhadap kelima perkara ini termasuk bagian dari
indahnya agama kita. Syariat telah datang untuk memerintahkan penjagaan
terhadap semua ini. Dan masih banyak perkara yang digariskan Islam,
namun tidak mungkin kita paparkan sekarang.

Syariat telah merangkum seluruh amal shahih mulai dari syahadat hingga
menyingkirkan gangguan dari jalan. Karena itu tolonglah jawab, kalau
menyingkirkan gangguan dari jalan termasuk bagian dari keimanan,
bagaimana mungkin agama memerintahkan untuk mengganggu orang lain,
melakukan pembunuhan dan peledakan? Jadi, ini sebenarnya sebuah
intervensi pemikiran asing atas agama kita. Semoga Allah memberkahi
waktu kita, dan mengaruniakan kepada kita pemahaman terhadap Kitabullah
dan Sunnah Nabi dengan lurus. Dan semoga Allah memberi tambahan
karunia-Nya kepada kita. Akhirnya, kami ucapkan alhamdulillah Rabbil
‘Alamin.

[Diambil dari situs almanhaj.or.id yang disalin dari Majalah As-Sunnah
Edisi 11/Tahun VIII/1425H/2005M rubrik Liputan Khusus yang diangkat dari
ceramah Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman Tanggal 5 Desember 2004 di
Masjid Istiqlal Jakarta]

***
Penulis: Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman hafizhahullah