Archive for Agustus, 2010

Menantikan Malam 1000 Bulan

Mengenai pengertian lailatul qadar, para ulama ada beberapa versi pendapat. Ada yang mengatakan bahwa malam lailatul qadr adalah malam kemuliaan. Ada pula yang mengatakan bahwa lailatul qadar adalah malam yang penuh sesak karena ketika itu banyak malaikat turun ke dunia. Ada pula yang mengatakan bahwa malam tersebut adalah malam penetapan takdir. Selain itu, ada pula yang mengatakan bahwa lailatul qadar dinamakan demikian karena pada malam tersebut turun kitab yang mulia, turun rahmat dan turun malaikat yang mulia.[1] Semua makna lailatul qadar yang sudah disebutkan ini adalah benar.

Keutamaan Lailatul Qadar

Pertama, lailatul qadar adalah malam yang penuh keberkahan (bertambahnya kebaikan). Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ , فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ

“Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al Qur’an) pada suatu malam yang diberkahi. dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” (QS. Ad Dukhan: 3-4). Malam yang diberkahi dalam ayat ini adalah malam lailatul qadar sebagaimana ditafsirkan pada surat Al Qadar. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.” (QS. Al Qadar: 1) Baca lebih lanjut…

Iklan

MENGENAL ISLAM

Penyusun : Div. Risert Ilmiyah di Universitas Islam Madinah
Terjemah : Team Terjemah Div. Risert Ilmiyah
Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad

MENGENAL ISLAM

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Semoga shalawat dan salam tercurah untuk imam para rasul, nabi kita Muhammad, beserta keluarga dan para shahabatnya .

Islam adalah syari’at Allah terakhir yang diturunkan-Nya kepada penutup para nabi dan rasul, Muhammad bin Abdullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Islam merupakan satu-satunya agama yang benar . Allah tidak menerima dari siapapun agama selainnya . Dia telah menjadikannya sebagai agama yang mudah.
Allah tidak mewajibkan dan tidak pula membebankan kepada para pemeluknya hal-hal yang tidak sanggup mereka lakukan .

Islam adalah agama yang dasarnya tauhid, syi’arnya kejujuran, porosnya keadilan, tiangnya kebenaran, ruhnya (jiwanya) kasih sayang
Islam merupakan agama agung , yang mengarahkan manusia kepada seluruh yang bermanfa’at , serta melarang dari segala yang membahayakan bagi agama dan kehidupan mereka .

Dengan Islam Allah meluruskan ’aqidah dan akhlak , serta memperbaiki kehidupan dunia dan akhirat . Dengannya pula Allah menyatukan hati dan hawa nafsu yang bercerai-berai, dengan membebaskannya dari kegelapan kebatilan , dan mengarahkan serta menunjukinya kepada kebenaran dan jalan yang lurus .

Islam adalah agama yang lurus , yang sangat bijaksana dan sempurna dalam segala berita dan hukum-hukumnya . Islam tidak memberitakan kecuali dengan jujur dan benar , dan tidak menghukum kecuali dengan yang baik dan adil . Islam adalah : ’aqidah yang benar , amalan yang tepat , akhlak yang utama dan etika yang mulia . Baca lebih lanjut…

Kekayaan yang Tiada Habis, Inginkah Engkau memilikinya?

Kekayaan yang Tiada Habis, Inginkah Engkau memilikinya?
(Faktor pendukung untuk memiliki sikap qona’ah)

“Ketika seorang mukmin memahami nilai dunia dan hakikat kehidupan di dunia; ketika hati seorang mukmin digenangi oleh keimanan dan makrifat tentang Allah Subhanahu wa Ta'ala, nama-nama, dan sifat-sifat-Nya; maka ketika itu; dari pemahaman dan keimanan itu, akan lahirlah karakter mental yang sungguh berharga, yaitu qona’ah. Itulah sebuah harta kekayaan yang tidak ada habisnya.” Demikian yang disampaikan oleh Syaikh Abdullah bin Abdul Hamid Al Atsari dalam bukunya “Qona’ah, Kekayaan Tiada Habisnya.”

Qona’ah - merasa cukup dengan apa yang ada- sebuah kata yang mudah untuk diucapkan, namun sulit untuk dipraktikkan. Terlebih di zaman ini, dimana kita melihat begitu banyak manusia mengalami “kegilaan” terhadap dunia beserta isinya. Di zaman sekarang ini, sulit rasanya untuk mewujudkan kekayaan yang tiada habisnya ini hanya dengan nasihat singkat, “Nak, bersikaplah qona’ah; kamu akan tenang hidupnya”; atau nasihat-nasihat sejenis. Keterangan singkat yang disisipkan pada pengajian-pengajian juga belum mencukupi untuk menumbuhkan harta yang tiada habisnya ini. Hadits-hadits tentang qona’ah yang kita baca pun, (terkadang) tidak cukup membantu untuk serta merta memunculkan sifat itu pada diri kita, kecuali orang-orang yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Fondasi Sifat Qona’ah
Fondasi yang utama dan pertama untuk menumbuhkan sifat ini adalah keyakinan yang benar. Keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, mengenal Allah dengan nama dan sifat-sifat-Nya berikut keagungan dan keindahan yang dikandungnya; keimanan yang mantap kepada hari akhir, keyakinan yang benar tentang takdir yang baik dan buruk; semua itu merupakan landasan utama untuk menumbuhkan sifat dan karakter mental yang sangat mahal harganya ini.

Keimanan dan pengetahuan seorang mukmin terhadap Allah beserta nama dan sifatnya; akan menjadikan dirinya merenungkan firman, perintah dan penjelasan-Nya; yang hasilnya ia akan memahami hakikat dunia, hakikat dirinya, dan hakikat qona’ah beserta manfaatnya di dunia dan di akhirat.

Keimanan kepada hari akhir akan mendorong seorang mukmin untuk memiliki sikap zuhud terhadap dunia. Pemikirannya selalu tertuju kepada hari akhir dan seluruh rangkaiannya, terutama ketika amal-amal kita dihisab. Dengan bekal ini ia paham, bahwa hidup dunia hanyalah sementara, sebagaimana yang ia pelajari dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, “Apa perluku dengan dunia? Perumpamaanku dengan dunia hanyalah ibarat pengendara ynag tidur siang sejenak di bawah naungan sebuah pohon, kemudian berangkat di sore hari dan meninggalkannya.” (HR.Ahmad dan Tirmidzi). Hal ini akan menjadikannya bersikap menerima apapun yang terjadi dengan dirinya dengan senang hati. Baca lebih lanjut…

Hak Dan Kewajiban Suami Istri

Segala puji hanya milik Allah , kami memuji, memohon pertolongan dan ampunan hanya kepada-Nya, kami berlindung kepada Allah dari keburukan diri kami dan dari kejelekan amal perbuatan kami. Barang siapa yang diberikan petunjuk oleh Allah, maka tidak akan ada yang menyesatkannya. Dan barang siapa yang disesatkan oleh-Nya, maka tidak akan ada yang memberikan petunjuk kepadanya.
Aku bersaksi tidak ada ilah yang berhak diibadahi selain Allah Yang Maha Esa lagi tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi Muhammad shalallahu'alaihi wassalam, keluarga dan sahabatnya serta orang-orang yang mengikutinya hingga akhir zaman.

KEWAJIBAN ISTRI KEPADA SUAMI (HAK SUAMI ATAS ISTRI)

1. Mentaati suami bukan dalam kemaksiatan
Istri harus mentaati semua perintah suami salama perintah itu dalam hal-hal yang dibolehkan syariat, sebaliknya, ia tidak boleh mentaatinya, bila perintah-perintah suami mengandung unsur maksiat kepada Allah . Sebab tidak ada ketaatan seseorang dalam rangka maksiat kepada Allah Sang Khaliq.
Rasulullah shalallahu'alaihi wassalam memotifasi wanita untuk mentaati suaminya, hingga dalam perkara yang tidak diketahui manfaatnya olehnya atau dia tidak sependapat dengan pendapat suaminya (semata-mata) untuk mendekatkan diri kepada Allah dan meraih keridhaan-Nya.
Dari Anas , Rasulullah shalallahu'alaihi wassalam bersabda :
“Tidak patut bagi manusia bersujud kepada sesama manusia. Seandainya patut bagi manusia bersujud kepada sesama manusia, niscaya aku perintahkan wanita bersujud kepada suaminya, karena besarnya haknya atas istrinya.” (HR Tirmidzi)
Tidak shaum sunnah kecuali dengan izinnya
Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah shalallahu'alaihi wassalam bersabda :
“Tidak halal bagi wanita melaksanakan puasa, sedangkan suaminya ada di rumah kecuali dengan seizinnya, dan tidak pula memberi izin (orang lain masuk) ke rumahnya kecuali dengan seizinnya.” (HR Bukhari Muslim)
Jika wanita tersebut tetap berpuasa sunnah padahal suaminya tidak mengizinkan, maka puasanya tidak sah dan dia berdosa. Baca lebih lanjut…

Istriku Bukan Bidadari, Tapi Aku Pun Bukan Malaikat

Alhamdulillah, salawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, dan sahabatnya.

Anda telah berkeluarga? Bagaimana pengalaman Anda selama mengarungi bahtera rumah tangga? Semulus dan seindah yang Anda bayangkan dahulu?

Mungkin saja Anda menjawab, “Tidak.”

Akan tetapi, izinkan saya berbeda dengan Anda, “Ya,” bahkan lebih indah daripada yang saya bayangkan sebelumnya.

Saudaraku, kehidupan rumah tangga memang penuh dengan dinamika, lika-liku, dan pasang surut. Kadang Anda senang, dan kadang Anda bersedih. Tidak jarang, Anda tersenyum di hadapan pasangan Anda, dan kadang kala Anda cemberut dan bermasam muka.

Bukankah demikian, Saudaraku?

Berbagai tantangan dan tanggung jawab dalam rumah tangga senantiasa menghiasi hari-hari Anda. Semakin lama umur pernikahan Anda, maka semakin berat dan bertambah banyak perjuangan yang harus Anda tunaikan.

Tanggung jawab terhadap putra-putri, pekerjaan, karib kerabat, masyarakat, dan lain sebagainya.

Di antara tanggung jawab yang tidak akan pernah lepas dari kehidupan Anda ialah tanggung jawab terhadap pasangan hidup Anda.

Sebelum menikah, sah-sah saja Anda sebagai calon suami membayangkan bahwa pasangan hidup Anda cantik rupawan, bangsawan, kaya raya, patuh, pandai mengurus rumah, penyayang, tanggap, sabar, dan berbagai gambaran indah.

Bukankah demikian, Saudaraku? Baca lebih lanjut…

Begini Seharusnya Seorang Muslim di Bulan Ramadhan


Oleh :Ust Abu Salma al-Atsari

Kaum Muslimin yang berbahagia, tamu yang agung telah datang
mengunjungi kita, dia datang hanya sekali dalam setahun, dia senantiasa ditunggu-tunggu oleh hamba-hamba-Nya yang mukmin, yang kedatangannya akan menenangkan jiwa-jiwa manusia, yang kedatangannya akan membawa berkah dari Rabb semesta alam, dan kedatangannya penuh dengan kemuliaan dan keutamaan. Anda semua telah mengenalnya wahai kaum muslimin yang berbahagia, dia tiada lain dan tiada bukan adalah bulan Ramadhan.

Dialah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, bulan yang syaithan syaithan dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup dan pintu-pintu surga dibuka, serta dialah bulan yang di dalamnya terdapat Lailatul Qodar, yang apabila seorang hamba beribadah di malam itu lebih baik dari seribu bulan.
Segala puji bagi Alloh yang telah mengizinkan kita semua bersua dengan
bulan ini.
Wahai kaum muslimin, marilah kita jadikan bulan ramadhan kita ini sebagai bulan terakhir kita, seakan-akan kita tidak akan menjumpainya lagi tahun depan. Marilah kita isi bulan ini dengan amalan-amalan yang berguna, karena Nabi yang mulia ‘alaihi Sholatu wa Salam telah bersabda :
“Berapa banyak orang yang berpuasa namun hanya mendapatkan rasa haus dan lapar belaka.” (Shohih, diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Ibnu Majah, Ad-Darimi dan Al-Baihaqi dari Abu Sa’id Al-Maqburi dari Abu Hurairoh).
Sungguh benar sabda nabi di atas karena beginilah mayoritas kaum
muslimin saat ini, yang perutnya berpuasa dari makan dan minum, namun matanya, telinganya, lisannya dan hatinya tidak turut berpuasa. Mereka masih gemar berkata kotor, berdusta, mencaci maki, memandang yang haram, mendengarkan yang haram dan perbuatan-perbuatan maksiat lainnya.
Wahai kaum muslimin yang berbahagia, sungguh indah ucapan Al-Hafidh
Ibnu Hajar al-Asqolani rahimahullahu yang berkata di dalam Fathul Bari
(I/31) : “Bulan ramadhan adalah musim kebajikan, dikarenakan nikmat
Alloh atas hamba-hambanya di bulan ini berlipat ganda dibanding bulan bulan lainnya.” Oleh karena itu wahai kaum muslimin, beginilah seharusnya seorang mukmin itu di dalam bulan ramadhan : Baca lebih lanjut…

Kunci Meraih Ampunan

Oleh Ustadz Abu Mushlih Ari Wahyudi -hafizhahullah-

Ampunan Allah, sesuatu yang amat diharapkan. Tak seorangpun melainkan mengharapkannya. Entah dia seorang ahli ilmu, ahli ibadah, apalagi ahli maksiat.

Terlebih lagi bagi orang-orang yang berusaha untuk menempuh jalan kembali kepada Allah dengan taubat. Banyak rintangan dan hambatan yang harus ditemui. Sehingga hal itu menyebabkan seorang hamba harus waspada, karena tatkala dia telah merasa taubatnya diterima, kemudian -pada akhirnya- perasaan itu justru menyeret dirinya terjerumus ke dalam lembah dosa yang lainnya, wal ‘iyadzu billah!

Ketahuilah saudaraku, bahwa tauhid yang bersih merupakan kunci untuk meraih ampunan. Namun, hal ini tidaklah sesederhana dan semudah yang dibayangkan oleh kebanyakan orang.

Meninggal di atas tauhid yang bersih merupakan syarat mendapatkan ampunan dosa. Dalam hal ini terdapat perincian sebagai berikut: Baca lebih lanjut…