Segala puji hanya milik Allah , kami memuji, memohon pertolongan dan ampunan hanya kepada-Nya, kami berlindung kepada Allah dari keburukan diri kami dan dari kejelekan amal perbuatan kami. Barang siapa yang diberikan petunjuk oleh Allah, maka tidak akan ada yang menyesatkannya. Dan barang siapa yang disesatkan oleh-Nya, maka tidak akan ada yang memberikan petunjuk kepadanya.
Aku bersaksi tidak ada ilah yang berhak diibadahi selain Allah Yang Maha Esa lagi tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi Muhammad shalallahu'alaihi wassalam, keluarga dan sahabatnya serta orang-orang yang mengikutinya hingga akhir zaman.

KEWAJIBAN ISTRI KEPADA SUAMI (HAK SUAMI ATAS ISTRI)

1. Mentaati suami bukan dalam kemaksiatan
Istri harus mentaati semua perintah suami salama perintah itu dalam hal-hal yang dibolehkan syariat, sebaliknya, ia tidak boleh mentaatinya, bila perintah-perintah suami mengandung unsur maksiat kepada Allah . Sebab tidak ada ketaatan seseorang dalam rangka maksiat kepada Allah Sang Khaliq.
Rasulullah shalallahu'alaihi wassalam memotifasi wanita untuk mentaati suaminya, hingga dalam perkara yang tidak diketahui manfaatnya olehnya atau dia tidak sependapat dengan pendapat suaminya (semata-mata) untuk mendekatkan diri kepada Allah dan meraih keridhaan-Nya.
Dari Anas , Rasulullah shalallahu'alaihi wassalam bersabda :
“Tidak patut bagi manusia bersujud kepada sesama manusia. Seandainya patut bagi manusia bersujud kepada sesama manusia, niscaya aku perintahkan wanita bersujud kepada suaminya, karena besarnya haknya atas istrinya.” (HR Tirmidzi)
Tidak shaum sunnah kecuali dengan izinnya
Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah shalallahu'alaihi wassalam bersabda :
“Tidak halal bagi wanita melaksanakan puasa, sedangkan suaminya ada di rumah kecuali dengan seizinnya, dan tidak pula memberi izin (orang lain masuk) ke rumahnya kecuali dengan seizinnya.” (HR Bukhari Muslim)
Jika wanita tersebut tetap berpuasa sunnah padahal suaminya tidak mengizinkan, maka puasanya tidak sah dan dia berdosa.

3. Tidak memasukkan seseorang ke rumah kecuali atas izin suami
Dari ‘Amr bin al-Ahwash, bahwasanya Rasulullah shalallahu'alaihi wassalam bersabda:
“ingatlah bahwa kalian mempunyai hak atas istri-istri kalian, dan istri-istri kalian pun mampunyai hak atas kalian. Hak kalian atas mereka ialah mereka tidak memasukkan di tempat tidur kalian orang yang tidak kalian sukai, dan tidak pula mengizinkan di rumah kalian kepada orang yang tidak kalian sukai. ” (At Tirmidzi)

4. Tidak keluar rumah tanpa izin suami
Diriwayatkan oleh Muadz bin Jabal, Rasulullah shalallahu'alaihi wassalam bersabda :
“Tidak halal seorang istri mengizinkan (orang lain) memasuki rumahnya, sedang suaminya membenci itu. Dan ia tidak boleh keluar rumah sedang suami tidak menyukainya.” (HR Bukhari, Imam Thabari)

5. Menjaga agama dan kehormatannya
Dalam hadiast Abu Musa Al-asy’ari, Rasulullah shalallahu'alaihi wassalam bersabda:
“Barang siapa yang menjaga sesuatu yang ada di antara dua rahangnya (lidah) dan dua pahanya (kemaluan), ia masuk surga.” (HR Ahmad(IV/398) dan Al Hakim (IV/358), dengan sanad yang shahih)
Sikap menjaga diri istri dalam keluarga merupakan tiang utama penyangga bangunan pendidikan anak dan kaluarga, serta jalan yang lurus guna menanamkan nilai-nilai keutamaan dan kemuliaan kepada anak-anak.

6. Menjaga harta suami
Istri yang pandai dan cekatan adalah yang senantiasa berupaya dengan penuh rasa tanggung jawab memelihara harta benda milik suaminya. Dan istri mukminah adalah yang ridha dengan nafkah yang diberikan suami padanya sesuai dengan kemampuan yang Allah berikan padanya, baik dalam keadaan susah dan lapang. Ia tidak marah padanya di saat kondisi kesulitan serta tidak bersikap berlebihan atau boros di saat lapang. Dalam sebuah hadits disebutkan :
“Tidaklah disebut miskin orang yang hidup sederhana”. (HR Ahmad)
Nabi juga bersabda kepada Abu Dzar :
“Tidak ada kepandaian akal yang sebanding dengan kepandaian mengatur dan mengelola.” (ini adalah potongan dari sebuah hadist panjang dalam kitab Al Hilyah dan shahih Ibni Hibban)

7. Melayani di tempat tidur
Istri tidak boleh menolak ajakan suami kapan pun ia berkehendak untuk melakukan hubungan suami istri, selagi tidak ada halangan-halangan syar’i padanya. Terdapat hadits-hadits shahih mengenai hal ini, di antaranya :
“Jika suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya lalu ia tidak mendatanginya, sehingga dia tidur dalam keadaan marah kepadanya, maka para malaikat melaknatnya hingga shubuh.” (Hadist riwayat Bukhari, Abu Dawud)

8. Mengatur rumah
Di antara sifa-sifat istri yang disukai suami adalah istri yang pandai mengatur perabotan dalam rumah, mengerti kebutuhan-kebutuhan rumah, peduli terhadap penciptaan suasana rumah yang indah dan rapi, penyabar, penyayang, lapang dada, tabah, baik perlakuannya terhadap sekuruh anggota keluarga, pandai mengatur urusan pembantu dan anak-anak, peduli kebersihan bersikap hemat dalam hidup, dan membantu suami menunaikan urusan dunia serta akhiratnya.
Ibnu Abbas berkata, bahwa ia telah mendengar Rasulullah shalallahu'alaihi wassalam bersabda :
“Istri-istri kalian yang termasuk penghuni surga, yaitu mereka yang penyayang, (berpotensi) beranak banyak, yang senantiasa mengupayakan sesuatu yang bermanfaat bagi suami, dan jika suami marah ia mendatangi suami kemudian meletakkan tangannya di atas tangan suami, kemudian berkata, “Aku tidak bisa tidur sampai engkau ridha kepadaku.” (Ditakhrijkan oleh Imam An Nasa’i)

9. Mensyukuri pemberian suami
Istri yang pandai adalah yang mampu menyeimbangkan antara pemenuhan kebutuhan keluarga dengan penghasilan suaminya. Ia tidak menciptakan beban yang berat untuk suaminya dan tidak pula tergiur dengan ha-hal yang memikat atau melirik materi orang lain, ia tidak memaksa suami untuk membeli sesuatu sebagaimana yang dimiliki orang lain, yang memberatkan suami.
‘Abdullah bin ‘Umar mengatakan: “Rasulullah shalallahu'alaihi wassalam bersabda:
“Allah tidak memandang seorang wanita yang tidak berterimakasih kepada suaminya, padahal dia butuh kepadanya.” (Hadits riwayat Al Bazzar dengan dua jalur dan Ath Thabari)

10. Menyusui, menyayangi, dan mendidik anaknya
Tugas paling baik dan mulia bagi istri adalah jika ia dapat mendidik sendiri anak-anaknya dan tidak menyerahkannya kapada pembantu atau orang lain. Inilah tugas utamanya dalam rangka mambentuk masyarakat yang islami. Rasulullah shalallahu'alaihi wassalam pernah bersabda :
“Istri adalah pemimpin di tengan keluarganya, dan akan dimintai pertanggung jawaban akan hal itu.”
Nabi shalallahu'alaihi wassalam pernah memuji perempuan yang mengasuh anak-anaknya. Beliau bersabda :
“sebaik-baik perempuan yang menunggang unta adalah perempuan-perempuan Quraisy yang shalih, yaitu yang paling sayang kepada anaknya di masa kecil, serta yang paling dapat manjaga harta benda suaminya.” (HR Bukhari , Muslim, Ahmad, dari Abu Hurairah)

KEWAJIBAN SUAMI KEPADA ISTRI (HAK ISTRI ATAS SUAMI)

1. Harus dipergauli dengan baik
Allah berfirman:
“Dan bergaullah dengan mereka secara patut.” (An Nisa : 19)
Dari Abu Hurairah , ia menuturkan, Rasulullah bersabda:
“Kaum mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan sebaik-baik kalian adalah yang terbaik kapada istrinya”. (HR Tirmidzi, Abu Dawud, Ahmad)

2. Adil terhadap istri-istri (jika lebih dari satu)
Rasulullah shalallahu'alaihi wassalam bersabda:
“Barang siapa memiliki dua istri, kemudian tidak dapat bersikap adil kepada keduanya, maka di akhirat kelak salah satu sisi dirinya jatuh.” (dalam riwayat lain “Salah satu sisi dirinya miring”). (HR Imam Ahmad, Abu Dawud, At Tirmidzi, dll)
Adalah Nabi pria yang mampu membagi secara adil terhadap istri-istri beliau, baik dalam hal pakaian, tempat tinggal dan nafkah makanan, juga dalam pemenuhan biologis.

3. Bergurau, dan menciptakan suasana romantis
Kemampuan suami menciptakan suasana ceria, gurauan romantis, serta canda yang menyegarkan di hadapan istri akan dapat menyegarkan suasana hati sang istri, bahkan membuahkan keharmonisan hidup antara keduanya.
Rasulullah shalallahu'alaihi wassalam bersabda :
“Jika Allah menghendaki kebaikan bagi sebuah keluarga, Dia akan menempatkan padanya rasa kasih sayang.” (HR Imam Ahmad)
Suami tidak boleh berlebihan dalam bersenda gurau, juga dalam sikap lemah lembut terhadap istri, sehingga sampai menodai kebaikan akhlak dan menjatuhkan kepribadiannya. Karena itu, ia juga tidak boleh menutup mata jika sikap dan perilaku istri ada yang berlawanan dengan nilai-nilai agama dan syariat islam.

4. Memberi nafkah kepada istri dan anak-anaknya
Memberi nafkah adalah kewajiban suami, meskipun si istri kaya. Ia wajib mencukupi kebutuhan makan dan sandangnya dengan tidak terlalau berlebihan atau terlalu kikir. Hal ini disesuaikan dengan kemampuannya.
Dalam hai ini, Allah berfirman :
“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (Ath Thalaq : 7)

5. Pemenuhan kebutuhan biologis istri demi menjaga kehormatannya
Di antara kewajiban suami adalah memenuhi kebutuhan biologis istrinya. Ia tidak boleh menelantarkannya tanpa sebab yang memang membolehkannya. Sebab hal itu, berarti menzhaliminya, meski alasan suami untuk berkonsentrasi dalam beribadah kepada Allah .
Allah berfirman :
“ …Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf… (QS Al Baqrah : 228)

6. Tidak boleh memukul istri hingga menyakitkan (berlebihan)
Diriwayatkan oleh Abdullah bin Zum’ah, bahwa Rasulullah shalallahu'alaihi wassalam bersabda:
“Janganlah seorang suami mencambuk istri sebagaimana mencambuk hamba sahaya, kemudian ia menjima’nya sesudah itu di malam harinya”.
Hubungan suami istri yang baik dan ideal haruslah didahului dengan rasa saling senang. Sementara orang yang dipukul merasa benci kepada yang memukulnya. Hadits di atas mengisyaratkan betapa tercelanya hal ini. Jika hal itu harus terjadi, maka pukulan yang diberikan harus hanya sekedarnya dan bersifat mendidik, bukan karena emosi, sehingga tidak membuat istri membencinya.

7. Pertengahan dalam sifat cemburu (ghirah)
Cemburu dan prasangka yang berlebih-lebihan yang tidak berdasar bahkan bersikap seperti memata-matai, maka hal yang demikian dan sejenisnya terlarang, dan bahkan haram hukumnya. Allah dan rasul-Nya melarangnya. Dia berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kalian mencari-cari kesalahan orang lain…” (Al Hujurat : 12}

8. Mengajarinya
Di antara wasiat yang paling mulia dan agung terhadap wanita ialah mangajarinya dan memahamkan agama Allah kepadanya. Dan pengajaran itu hendaklah dilakukan dengan lemah lembut. Karena sesungguhnya Nabi bersabda:
“Berbuatlah santun, dan jauhi sifat kasar. Tidaklah kelemah lembutan itu ada pada sesuatu kecuali akan menghiasinya , dan tidaklah kelemah lembutan itu dicabut dari sesuatu kecuali akan memburukkannya.” (HR Muslim)

9. Tidak boleh menghalanginya pergi ke masjid
Sebagaimana dalam Ash-Shahihain dari Ibnu ‘Umar, Nabi shalallahu'alaihi wassalam bersabda:
“Janganlah kalian menghalangi kaum wanita dari masjid-masjid Allah.” (HR Bukhari)
Ini adalah hak bagi seorang wanita atas walinya, seperti suami atau ayah dan selain keduanya. Shingga tidak dihlalalkan untuk menghalanginya, kecuali jika dikhawatirkan munculnya fitnah

Sumber :Makalah Dauroh Keluarga Sakinah Al Ustadz Abu HAidar As Sundawy