Oleh: Syaikh Abdul-Malik bin Ahmad Ramadhani

Pengertian “Salaf”

Secara bahasa, Salaf berarti orang-orang yang mendahului kita, baik dari segi keilmuan, keimanan, keutamaan, maupun kebaikannya. Ibnul-Manzhur berkata; “Salaf juga berarti orang-orang yang mendahuluimu, baik orang tua maupun karib kerabatmu yang lebih tua dan utama darimu.” (1) Termasuk dalam pengertian ini apa yang telah dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada putrinya Fatimah az-Zahrah:

“Sesungguhnya sebaik-baik Salaf bagimu adalah aku.” (2)

Adapun yang dimaksud “Salaf” menurut istilah para ulama pada asalnya adalah para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian disertakan kepada mereka –dalam istilah tersebut- generasi sesudah mereka yang mengikuti jejak mereka (3).

Sedangkan menurut tinjauan waktu, maka “Salaf” maksudnya adalah generasi-generasi terbaik yang patut diteladani dan diikuti, yaitu tiga generasi pertama yang telah dipersaksikan keutamaannya oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya (yang artinya):
“Sebaik-baik umat adalah generasiku, kemudian generasi sesudahnya, kemudian sesudahnya lagi.”(4)

Namun, makna “Salaf” menurut tinjauan waktu ini masih belum cukup, karena kita melihat kemunculan firqah-firqah sesat dan bid’ah-bid’ah pada masa-masa tersebut, sehingga orang yang hidup pada masa tersebut tidak cukup dikatakan bahwa dia di atas manhaj Salaf sampai diketahui bahwa dia sejalan dengan para sahabat dalam memahami al-Qur’an dan as-Sunnah.

Oleh karena itu, para ulama menambahkan dengan istilah “as-Salaf ash-Shalih” (generasi Salaf yang shalih). Pada perkembangan selanjutnya istilah Salaf dinisbatkan kepada “orang-orang yang senantiasa menjaga aqidah dan manhaj hidupnya agar sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya Radhiallahu ‘anhum sebelum terjadi perpecahan dan perselisihan,” yaitu dengan munculnya beberapa macam firqah (kelompok islam sempalan).(5)

Kewajiban Merujuk kepada Pemahaman Salaf

Sebagai seorang Muslim kita dituntut untuk menjadikan al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai pedoman hidup. Keselamatan hidup kita, dunia dan akhirat, hanya akan diperoleh dengan cara kita tunduk dan patuh kepada keduanya.

Namun kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa kaum Muslimin terpecah-belah dalam berbagai pemahaman. Semua mengklaim dirinyalah yang berpegang kepada al-Qur’an dan as-Sunnah. Masing-masing mengaku paling benar dan menyalahkan orang lain yang menyelisihinya.

Pertanyaan kita adalah siapakah yang paling benar dan paling tepat dalam memahami al-Qur’an dan as-Sunnah sehingga kita tidak boleh menyelisihi mereka?

Jawabannya adalah para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Para sahabat itulah orang-orang yang paling paham tentang al-Qur’an dan as-Sunnah karena mereka hidup di zaman turunnya kedua wahyu tersebut kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka wajib bagi kita mengikuti petunjuk dan bimbingan mereka.

Dalil-Dalil Bahwa Pemahaman Salaf Wajib Menjadi Rujukan (6)

Beberapa dalil di bawah ini menunjukan bahwa pemahaman Salaf wajib menjadi rujukan umat Islam dalam memahami agamanya.

1. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya):

“Orang-orang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka (dalam melaksanakan) kebaikan, Allah ridha kepada mereka; dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang di dalamnya terdapat sungai-sungai yang mengalir. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah : 100)

Dalam ayat diatas Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji generasi Salaf dan orang-orang yang mengikuti mereka. Maka, dari sini dapat diketahui bahwa bila Salaf mengemukakan suatu pendapat kemudian diikuti oleh orang-orang pada generasi berikutnya, maka mereka menjadi orang-orang yang terpuji dan berhak mendapatkan keridhaan dari Allah sebagaimana yang didapat oleh generasi Salaf.

Kalaulah mengikuti jejak Salaf tidak berbeda dengan mengikuti jejak selainnya, niscaya mereka tidak pantas untuk dipuji dan diridhai; dan hal seperti itu jelas bertentangan dengan ayat di atas. Dengan demikian, berdasarkan ayat di atas telah jelas bahwa pemahaman Salaf menjadi rujukan bagi generasi berikutnya.

2. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya):
“Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia; menyuruh kepada yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Namun, di antara mereka ternyata ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Ali Imran : 110)

Dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala menetapkan adanya keutamaan generasi Salaf dibanding keseluruhan umat karena pernyataan dalam ayat tersebut tertuju kepada kaum Muslimin, yang waktu itu tiada lain adalah para Sahabat, generasi Salaf pertama yang mendulang ilmu langsung dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa perantara.

Adanya pemberian gelar kepada mereka sebagai umat terbaik menunjukkan bahwa mereka itu senantiasa istiqamah dalam segala hal, sehingga tidak akan menyimpang dari kebenaran.

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menjelaskan sifat mereka sebagai bukti kelurusan jalan hidup mereka, yaitu bahwa mereka selalu memerintahkan kepada yang ma’ruf dan melarang seluruh yang mungkar.Berdasarkan ayat di atas, juga jelas bahwa pemahaman Salaf menjadi hujjah dan rujukan bagi generasi sesudah mereka sampai Hari Kiamat.

3. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya):“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi sesudahnya, kemudian generasi sesudahnya lagi. Selanjutnya akan datang suatu kaum yang persaksiannya salah seorang di antara mereka mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului persaksiannya.”(7)

Apakah yang menjadi ukuran kebaikan pada diri mereka (tiga generasi Salaf) dalam hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut adalah warna kulit, bentuk tubuh, harta, atau yang sejenisnya? Jelas bukan! Dan tidak diragukan lagi bahwa ukuran kebaikan yang dimaksud tidak lain adalah ketakwaan hati dan amal shalih. Mengenai hal ini Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya):
Sesungguhnya manusia yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenali.” (QS. Al-Hujurat : 13)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya):“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kekayaan kalian. Allah hanya akan melihat kepada hati dan amal kalian.”(8)

Salah seorang sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, menceritakan bahwa Allah telah menjelaskan kepada umat ini bahwa hati para Sahabat adalah sebaik-baik hati setelah hati Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah Azza wa Jalla menganugrahkan kepada mereka pemahaman yang tidak akan pernah dicapai oleh generasi berikutnya. Sehingga, apa-apa yang mereka nilai baik, maka akan baik menurut Allah Azza wa Jalla dan apa-apa yang mereka nilai buruk, juga menjadi buruk menurut Allah Azza wa Jalla(9).

Jadi jelaslah, pemahaman Salaf menjadi rujukan bagi generasi sesudahnya sampai Hari Akhir nanti.

4. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya):

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kalian umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kalian…” (QS. Al-Baqarah : 143)

Sebagaimana halnya kandungan ayat pada poin dua, walaupun sifat yang terkandung dalam ayat diatas adalah kaum Muslimin secara umum, namun generasi Salaf masuk dalam barisan pertama yang mendapatkan gelar sifat tersebut. Mereka adalah generasi yang paling adil dan pilihan. Mereka adalah generasi utama umat ini. Mereka paling adil dalam berbuat, dalam berkata-kata, dan dalam berkehendak.

Memang sangat pantaslah mereka dijadikan saksi atas seluruh umat. Persaksian mereka akan diterima di hadapan Allah karena persaksian mereka berdasarkan ilmu dan kejujuran. Mengenai hal ini Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya):
“Dan sembahan-sembahan selain Allah yang mereka sembah itu tidak dapat memberi pembelaan. (Orang-orang yang dapat memberikan pembelaan adalah) tidak lain orang yang bersaksi dengan benar (yaitu orang yang bertauhid) dan meyakini(nya).” (QS. Az-Zukhruf : 86)

Jika persaksian mereka diterima di hadapan Allah Azza wa Jalla, tentu tidak diragukan lagi bahwa pemahaman mereka menjadi rujukan bagi generasi sesudahnya. Memang umat Islam sudah bersepakat bahwa tidak ada generasi yang berpredikat adil secara mutlak kecuali para Sahabat. Sehingga, berita mereka pasti diterima dan tidak perlu diteliti lagi kebenarannya.
Dari situ jelaslah, bahwa pemahaman mereka menjadi rujukan bagi yang lain dalam memahami nash-nash al-Qur’an dan as-Sunnah. Kita diperintahkan untuk mengikuti jejak dan jalan hidup mereka.

5. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya):
“…dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku.” (QS. Luqman : 15)

Para sahabat Radhiyallahu ‘anhum adalah orang-orang yang senantiasa kembali kepada Allah, sehingga Allah memberikan bimbingan kepada mereka bagaimana berkata dan beramal yang baik. Mengenai itu Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya):
“Dan orang-orang yang menjauhi thaghut10 (yaitu) tidak menyembahnya dan mau kembali kepada Allah, mereka mendapatkan kabar gembira; oleh sebab itu, sampaikanlah kabar tersebut kapada hamba-hamba-Ku, yang mendengar perkataan-perkataan lalu mengikuti mana yang paling baik di antara perkataan tersebut. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.” (QS. Az-Zumar : 17-18)

Orang yang menelaah perjalanan hidup para Sahabat pasti akan mengetahui bahwa seluruh sifat yang disebutkan dalam ayat-ayat tersebut dimiliki oleh mereka. Jadi, memang sudah seharusnyalah kita mengikuti jejak mereka dalam memahami agama Allah Azza wa Jalla ini, baik dalam memahami Kitab-Nya maupun Sunnah Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.Allah Azza wa Jalla mengancam orang yang tidak mau mengikuti jalan mereka dengan api neraka, sebagaimana tersebut dalam firman-Nya (yang artinya):
“Barangsiapa menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan tidak mengikuti jalan orang-orang beriman, maka Kami biarkan dia dikuasai oleh kesesatan dan akan Kami masukkan ke dalam neraka Jahannam. Padahal neraka Jahannam adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa’ : 115)

Dalam ayat tersebut, Allah mengancam orang yang tidak mengikuti jalan orang-orang beriman. Yaitu, jalan para sahabat Radhiyallahu ‘anhum –sebagai generasi pertama yang dimaksudkan dalam ayat tersebut- dan generasi sesudahnya.

Ini menunjukkan bahwa mengikuti jalan mereka dalam memahami syariat Allah adalah wajib. Barang siapa yang berpaling dari jalan mereka, maka dia akan menuai kesesatan dan diancam dengan neraka Jahannam. Tidak ada jalan lain yang harus kita tempuh selain jalan kaum Mukminin, sebagaimana tersebut dalam firman Allah Azza wa Jalla (yang artinya):
“Maka (Dzat yang demikian) itulah Allah, Rabb kamu yang sebenarnya. Tidak ada yang lain setelah kebenaran itu, kecuali kesesatan. Maka, mengapa kamu mau dipalingkan (dari kebenaran)?” (QS. Yunus : 32)

Siapa pun yang tidak mengikuti jalan orang-orang beriman pasti dia mengikuti jalan orang-orang yang tidak beriman. Siapa saja yang mau mengikuti jalan orang-orang beriman –jalan para sahabat Radhiyallahu ‘anhum- jelas akan mendapat keselamatan.

Jelaslah, pemahaman para Sahabat Radhiyallahu ‘anhum –sebagai generasi pertama- dalam memahami agama adalah menjadi rujukan bagi kita semuanya. Barangsiapa yang berpaling darinya, maka sesungguhnya dia telah memilih kebengkokan dan kesempitan. Cukuplah neraka Jahannam sebagai balasan baginya; padahal Jahannam itu sejelek-jelek tempat kembali dan tempat tinggal -kita berlindung kepada Allah Azza wa Jalla darinya-.

6. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda dalam hadits yang menyebutkan tentang perpecahan umat.
Dalam hadits tersebut memerintahkan kepada kita agar memegang teguh Sunnah Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sunnah Khulafa’ ar-Rasyidin Radhiyallahu ‘anhum. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya):
Wajib bagi kalian untuk berpegang teguh kepada perikehidupanku dan perikehidupan Khulafa’ ar-Rasyidin sepeninggalku.”

Beliau menyatakan bahwa dari sekian banyak kelompok Islam hanya ada satu yang selamat dan menjadi ahli Surga, yaitu mereka yang menempuh perikehidupan (Sunnah) sesuai dengan bimbingan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya Radhiyallahu ‘anhum.
Hal ini beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tegaskan dalam sabdanya (yang artinya):
"Semuanya masuk neraka kecuali satu golongan saja yaitu golongan yang pada saat itu mengikuti perikehidupanku dan perikehidupan para Sahabatku.”
Berdasarkan riwayat-riwayat di atas kita mengetahui bahwa perikehidupan para Sahabat Radhiyallahu’ anhum adalah perikehidupan Khulafa’ ar-Rasyidin dan perikehidupan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi jelaslah, pemahaman sahabat Radhiyallahu ’anhum –sebagai generasi Salaf pertama- menjadi rujukan bagi generasi berikutnya.

Manhaj Salafi adalah Manhaj Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya Radhiyallahu ‘anhum

Berdasarkan dalil-dalil di atas jelaslah bahwa satu-satunya jalan keluar hanya terdapat pada manhaj Salaf. Lalu, siapakah diantara sekian banyak kelompok Islam itu yang benar-benar berpagang teguh kepada manhaj sahabat Radhiyallahu ‘anhum? Jawabannya tidak lain adalah manhaj Salafi.

Jawaban tersebut disimpulkan dari dua hal berikut:

Pertama, paham-paham sesat seperti Khawarij, Rafidhah (Syi’ah), Murji’ah, Jahmiyah, Qadariyyah, Mu’tazilah, dan lain-lain muncul setelah masa kenabian dan masa Khulafa’ ar-Rasyidin. Jadi, tidak mungkin menisbatkan bahwa jalan Sahabat sama dengan jalan mereka, karena yang datang lebih dahulu tidak dinisbatkan kepada yang muncul belakangan (datang kemudian), justru sebaliknya yang datang belakanganlah yang dinisbatkan kepada yang lebih awal. Dengan begitu, Islam itu adalah yang tidak seperti kelompok-kelompok sesat di atas.

Kedua, mereka yang masih sesuai asal mulanya yaitu sesuai manhaj Sahabat secara nyata kita dapatkan. Tidak kita temukan satu pun dari kelompok-kelompok Islam yang ber-manhaj Sahabat, kecuali Ahlus-Sunnah dari pengikut Salafush-Shalih Ahlul-Hadits. Adapun selain mereka, maka tidak terbukti. Kelompok-kelompok tersebut sebagiannya meragukan keadilan Sahabat, sebagian lagi mengkafirkan mereka, sebagian mengembalikan kepada akal masing-masing, bahkan sebagian meninggalkan al-Kitab dan as-Sunnah sama sekali. Maka bagaimana mungkin kelompok-kelompok tersebut dikatakan ber-manhaj Sahabat padahal jalan hidup mereka meninggalkan Sahabat Radhiyallahu ’anhum?(11)

Wallahu a’lam bish-shawab.

Catatan Kaki:
1. ^ Lisanul Arab 9/159.
2. ^ HR. Muslim (nomor 1450).
3. ^ Kitab Limadza Ikhtartu Madzhab Salaf halaman 30.
4. ^ Akan datang takhrij-nya sebentar lagi.
5. ^ Ibid.
6. ^ Lihat Limadza Ikhtartu al-Manhaj as-Salafi halaman 86-98.
7. ^ Hadits mutawwatir, diantaranya dengan lafadz diatas yang diriwayatkan oleh Bukhari (nomor 2509, 3451, dan 6065), Muslim (nomor 1533), dan lainnya.
8. ^ HR. Muslim (nomor 2564).
9. ^ Lihat Musnad Ahmad (I/379).
10. ^ Thaghut; setiap yang disembah selain Allah dan ia ridha dengan penyembahan itu.
11. ^ Lihat Limadza Ikhtartu al-Manhaj as-Salafi halaman 16-98.

Sumber :http://ahlussunnah.info