Archive for Oktober, 2010

Jangan Terlena Dengan Kenikmatan Semu Itu

Di saat Allah menghendaki terjadinya hari kiamat, Dia pun memerintahkan malaikat Israfil untuk meniup terompetnya dua kali. Tiupan pertama sebagai pertanda untuk membinasakan seluruh makhluk yang ada di muka bumi dan langit, sedangkan tiupan kedua untuk membangkitkan mereka kembali.

Allah ta’ala berfirman:

وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الأرْضِ إِلا مَنْ شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ

“Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi maka tiba-tiba mereka berdiri (menunggu (putusannya masing-masing).” (QS. Az-Zumar: 68)

Maka, setelah malaikat Israfil meniupkan terompetnya yang kedua kalinya, seluruh makhluk pun dibangkitkan dari kuburnya oleh Allah ta’ala, lalu mereka dikumpulkan dalam suatu padang yang amat luas yang rata dengan tanah (QS. Thaha: 107. Lihat Tafsir As-Sa’di hal. 462), dalam keadaan tidak berpakaian, tidak memakai sandal, tidak berkhitan dan tidak membawa sesuatu apapun.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يحشر الناس يوم القيامة حفاة عراة غرلا. قالت عائشة: يا رسول الله النساء والرجال جميعا ينظر بعضهم إلى بعض؟ قال صلى الله عليه و سلم: يا عائشة الأمر أشد من أن ينظر بعضهم إلى بعض

“Pada hari kiamat nanti para manusia akan dikumpulkan dalam keadaan tidak memakai sandal, tidak berpakaian dan dalam keadaan belum berkhitan. Aisyah bertanya, ‘Wahai Rasulullah, kaum pria dan wanita (berkumpul dalam satu tempat semuanya dalam keadaan tidak berbusana?!) apakah mereka tidak saling melihat satu sama lainnya?’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab, ‘Wahai Aisyah kondisi saat itu amat mengerikan sehingga tidak terbetik sedikit pun dalam diri mereka untuk melihat satu sama lainnya!’” (HR. Bukhari dan Muslim) Baca lebih lanjut…

Apa Hukum Jual Beli Kredit?

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Bagaimana hukumnya kalau kita menyewakan atau menjual barang dengan harga beda? Misalnya untuk sewa 1 bulan = 100.000 dan sewa 2 minggu = 70.000. Serta untuk menjual barang cash = 100.000, kredit selama 2 bulan @ 70.000. Bagaimana hukum keduanya (sewa atau beli harga beda)? Kalau hukumnya haram, bagaimana sebaiknya? Jazakallah atas petunjuknya,

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Jawaban:

Wa’alaikumussalam

Alhamdulillah, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Langsung saja, masalah hukum perkreditan yang ditanyakan di sini insya Allah boleh, walaupun terjadi perbedaan harga, asalkan transaksinya jelas. Ketika pembeli pergi membawa barang, telah ada kepastian pilihan harga yang ia ambil.

Untuk lebih lanjutnya bisa baca artikel yang telah saya tulis tentang hukum jual beli kredit.

Wassalamu’alaikum

HUKUM PERKREDITAN

Macam-Macam Praktek Perkreditan

Diantara salah satu bentuk perniagaan yang marak dijalankan di masyarakat ialah dengan jual-beli dengan cara kredit.

Dahulu, praktek perkreditan yang dijalankan di masyarakat sangat sederhana, sebagai konsekwensi langsung dari kesederhanaan metode kehidupan mereka. Akan tetapi pada zaman sekarang, kehidupan umat manusia secara umum telah mengalami kemajuan dan banyak perubahan.

Tidak pelak lagi, untuk dapat mengetahui hukum berbagai hal yang dilakukan oleh masyarakat sekarang, kita harus mengadakan study lebih mendalam untuk mengetahui tingkat kesamaan antara yang ada dengan yang pernah diterapkan di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bisa saja, nama tetap sama, akan tepai kandungannya jauh berbeda, sehingga hukumnyapun berbeda. Baca lebih lanjut…

Mengucapkan Allahu A’lam Bila Tidak Tahu

Allah berfirman:

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati, agar kamu bersyukur. (An-Nahl: 78)

Inilah keadaan gambaran manusia ketika pertama kali ia lahir ke dunia yang fana ini. Ia tidak mengetahui apa-apa, hanya menangis dan tidur yang bisa ia lakukan. Akan tetapi, Allah yang maha Pemurah memberikan kepadanya beberapa sarana dari anggota tubuhnya yang dapat dipergunakan untuk mengetahui banyak hal yang masih asing baginya.

Pendengaran, penglihatan, dan hati (akal). Inilah sarana yang sangat berperan dalam menuntut ilmu. Yaitu untuk mendengar, melihat, dan memahami ayat-ayat tanda kebesaran Allah dengan tujuan pada akahirnya manusia dapat mengetahui dan mewujudkan tujuan penciptaannya di muka bumi ini, yaitu beribadah semata-mata kepada Allah.

Allah telah memberi peringatan dan ancaman yang keras bagi manusia dan jin yang tidak menggunakan pendengaran, penglihatan, dan hati mereka pada tempat semestinya yang diridhoi dan diperintahkan Allah, yaitu untuk mentauhidkannya. Mereka digambarkan bagaikan binatang ternak, bahkan lebih hina.

Di antara manusia ada yang mampu menggunakan sarana-sarana di anggota tubuhnya untuk menuntut ilmu syar'i yang digali dari Al-Quran dan Sunnah Rasulullah. Merekalah para ulama dan penuntut ilmu di jalan Allah.
Baca lebih lanjut…

Hidup Bahagia Tanpa Riba (2)

KE ENAM: BAHAYA RIBA

Di antara bahaya riba adalah pelakunya diperangi oleh Allah dan RasulNya, dihapuskannya barakah dalam harta, jiwa, istri, dan anak-anak.
Menyebabkan tenggelam dalam hutang, terhalang dari ketenangan jiwa, menyebabkan tertimpa berbagai penyakit jiwa sebagai akibat dari kegelisahan, kesedihan dan memakan harta dengan cara yang batil, juga berarti menawarkan diri untuk mendapatkan murka Allah dan siksaNya, menyebabkan terjangkit penyakit hati menurut keterangan para dokter. Di antara bahaya riba juga adalah bahwa pelakunya biasa dikenal dengan sifat dusta, bersiasat, bakhil, menipu dan akan mendatangkan kefakiran dengan segera.

KE TUJUH: BEBERAPA BENTUK RIBA DAN ANDIL DI DALAMNYA

Di antaranya adalah: Pinjaman bank dengan bunga (riba) seperti untuk keperluan pernikahan, pembelian mobil, perdagangan, travelling, membangun dan lain-lain. Rekening Giro; Angsuran Cepat Dengan Bonus; Deposito Berbunga; Deposito Tanpa Bunga (di bank yang memberlakukan sistim riba, karena membantu keharaman); Jaminan Bagi Peminat Kredit; Penulisan; Persaksian; Pembayaran Dalam Masalah Bunga; Fasilitas-Fasilitas Kemudahan; Penyebaran Pengumuman; Pelaksanaan; Pengambilalihan: Semua ini dan juga selainnya yang masih banyak adalah merupakan sesuatu yang haram, dan para pelakunya berada di atas bahaya yang besar.

Catatan: Apa yang disebutkan di atas adalah contoh yang ada di negara penulis (Uni Emirat) atau sekitarnya, sedangkan di negara kita produk jasa yang ditawarkan oleh bank mungkin saja menggunakan nama-nama yang lainnya. Intinya adalah apa pun namanya kalau produk jasa yang ditawarkan adalah menggunakan sistim ribawi maka hukumnya adalah haram (pen).

KE DELAPAN:
TIPUAN SYETAN UNTUK MENJERUMUSKAN DALAM BELITAN RIBA

Pinjaman yang sangat mudah - Tanpa membayar cicilan pertama - Pinjaman Pribadi - Pinjaman Perdagangan - Pinjaman untuk Pembangunan - Pinjaman Dengan Spesifikasi Yang Tak Tertandingi - Tunggu Apa Lagi, Kami segera Berikan Jalan Keluar - Apakah Anda Memimpikan sesuatu... Kalau Begitu Kunjungi¬lah Kami Segera - Keuntungan Kami Telah Mencapai Sekian dan Sekian - Pinjaman Travelling - Pinjaman Pernikahan - Cicilan Yang Begitu Mudah -Berbahagia Bersama Kami dengan Penuh Kegembiraan - Pinjaman Keluarga.

Aku katakan kepadarnu wahai saudaraku, "Waspadalah dari tipu daya, makar, kejahatan dan siasat mereka. Jagalah agama kalian semua dan juga harta kalian, jangan sekali-kali propaganda seperti di atas menipu anda semuanya.
Baca lebih lanjut…

Hidup Bahagia Tanpa Riba (1)

Penulis : Abu Abdirrahman Ali Khumais Ubaid

MEMO PENTING UNTUK PARA PRAKTISI RIBA

Segala puji hanya milik Allah -subhanahu wa ta’ala-, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi terakhir yang tidak ada nabi lagi seteIahnya. Amma ba'du:
Sesungguhnya orang yang memperhatikan realita kondisi kaum muslimin pada saat ini, maka dia akan mendapati bahwasanya masih banyak di antara mereka yang meremehkan atau menggampangkan masalah
riba, entah dengan memakannya, menjadi praktisi, menentukan hukum, mengambil pinjaman, menjadi saksi, penjamin, penulis, penganjur, pendorong atau pun pambantu dalam proses riba.
Seakan-akan urusan riba ini adalah merupakan satu kebolehan atau paling-paling merupakan hal yang makruh, atau hanya sebuah kemaksiatan kecil saja. Mereka tidak tahu bahwa ini termasuk perbuatan dosa besar yang Allah telah megumandangkan perang kepada para pelakunya di dunia dan akhirat, AIlah juga mengancam mereka dengan api neraka pada saat hari penghimpunan di hadapan-Nya. Dan yang lebih disayangkan lagi adalah, anda melihat
bahwa banyak dari mereka, baik tua atau muda bahkan para wanita yang penampilan mereka mencerminkan orang yang iltizam (konsisten) dengan ajaran Islam, namun tetap saja mereka terlibat dalam dosa besar ini, menganggap remeh hal tersebut dan bahkan mungkin berlombalomba menuju sana. Maka akhirnya mereka terbelenggu oleh hutang yang tidak ada yang tahu kecuali hanya Allah, sebagaimana mereka juga telah terbelenggu dengan kemarahan Allah aljabbar,
dengan laknatnya, dan kelak terbe-lenggu dengan siksanya jika mereka tidak mau bertaubat lalu taubatnya diterima oleh Allah.
Oleh karena itu maka aku memandang perlu untuk menyajikan di hadapan anda saudarasaudaraku fillah, beberapa ayat dan hadits-hadits Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, mudahmudahan akan mencegah dan menghalangi kita dari dosa besar, wabah penyakit berbahaya dan keburukan yang sangat nyata ini (riba).

PERTAMA:
AYAT-AYAT ALLAH MEMPERINGATKAN DARI RIBA

1. Pemakan Riba Ada di Antara Syetan dan Neraka
Allah -subhanahu wa ta’ala- berfirman,
“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya omng yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan. mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Rabbnya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah.
Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya." (QS. A1-Baqarah: 275)
Allah Tabaraka wa Ta'ala telah menjadikan pelaku riba tidak dapat berdiri pada hari kiamat kecuali berdirinya orang yang kesurupan setan lantaran tekanan penyakit gila, yakni ia seperti orang kerasukan. Ini salah atu hukuman bagi mereka, merupakan kehinaan dan keburukan yang sangat jelas. lalu Allah -subhanahu wa ta’ala- menegaskan dengan jelas keharaman riba dalam firman-Nya,
"Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba."
Selanjutnya Allah mengancam orang-orang yang tidak mau bertaubat dari riba setelah Allah rnengha¬rannkannya dengan ancaman api neraka, sebagaimana firman-Nya, “Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Rabbnya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang
larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya"
Maka para pelaku riba dalah penghuni nereka, kecuali jika Allah memberikan rahmatnya, dan Allah menerima taubatnya setelah mereka memohon am¬punan kepada Allah.
Baca lebih lanjut…

Tauhid Uluhiyah: Kewajiban Pertama Seorang Manusia

Permasalahan tauhid sangat penting dalam pandangan Islam. Kesalahan dan penyimpangan dalam masalah ini sangat berbahaya, sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para ulama memberikan perhatian serius dalam permasalahan ini. Khususnya tauhid uluhiyah atau tauhid ibadah yang langsung menjadi intisari peribadatan setiap manusia.

Oleh karena itu, Ahlus Sunnah wal Jama’ah memandang kewajiban pertama bagi hamba Allah adalah syahadatain yang berisi tauhid uluhiyah dan mutaba’ah, sebagaimana dijelaskan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, “Sesungguhnya para salaf dan para imam sepakat memandang kewajiban pertama yang diperintahkan kepada hamba adalah syahadatain. Juga sepakat orang yang mengucapkan syahadatain sebelum baligh-nya tidak diperintahkan untuk memperbarui hal tersebut setelah (mencapai usia) baligh.” (Dar’u Ta’arudh al-Aqli wan-Naqli, 8/11)

Dasar dari kesepakatan ini dapat diringkas dalam empat dalil yaitu:

Semua utusan Allah (rasul) berdakwah kepada tauhid uluhiyah dan mengikhlashkan ibadah semata kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Hal ini dijelaskan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أَمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Dan sesungguhnya, Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu.’” (Qs. an-Nahl/16: 36)

Juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

وَمَآأَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلاَّنُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لآ إِلَهَ إِلآ أَنَا فَاعْبُدُونِ

“Dan Kami tidak mengutus seorang Rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya, ‘Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.’” (Qs. al-Anbiya`/21: 25)

Demikian juga banyak ayat turun menjelaskan individu para rasul yang menyeru kaumnya kepada tauhid uluhiyah, sebagai contoh adalah:

Nabi Nuh yang dijelaskan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَاقَوْمِ اعْبُدُوا اللهَ مَالَكُم مِّنْ إِلاَهٍ غَيْرُهُ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ

“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata, ‘Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa adzab hari yang besar (kiamat).’” (Qs. al-A’raf/7: 59)

Nabi Hud yang dijelaskan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا قَالَ يَاقَوْمِ اعْبُدُوا اللهَ مَالَكُم مِّنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ أَفَلاَ تَتَّقُونَ

“Dan (kami telah mengutus) kepada kaum ‘Aad saudara mereka, Hud. Ia berkata, ‘Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain dari-Nya. Maka, mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?” (Qs. al-A’raf/7: 65) Baca lebih lanjut…

Waspada Berbagai Syirik di Sekitar Kita!

Kalau ada seorang penceramah berkata di atas mimbar: “Sungguh perbuatan syirik dan pelanggaran tauhid sering terjadi dan banyak tersebar di masyarakat kita!”, mungkin orang-orang akan keheranan dan bertanya-tanya: “Benarkah itu sering terjadi? Mana buktinya?”.

Tapi kalau berita ini bersumber dari firman Allah Ta’ala dalam al-Qur’an, masihkah ada yang meragukan kebenarannya? Allah Ta’ala berfirman,

{وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلَّا وَهُمْ مُشْرِكُونَ}

“Dan sebagian besar manusia tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan-Nya (dengan sembahan-sembahan lain)” (QS Yusuf:106).

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menjelaskan arti ayat ini: “Kalau ditanyakan kepada mereka: Siapakah yang menciptakan langit? Siapakah yang menciptakan bumi? Siapakah yang menciptakan gunung? Maka mereka akan menjawab: “Allah (yang menciptakan semua itu)”, (tapi bersamaan dengan itu) mereka mempersekutukan Allah (dengan beribadah dan menyembah kepada selain-Nya)[1].

Semakna dengan ayat di atas Allah Ta’ala juga berfirman,

{وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ}

“Dan sebagian besar manusia tidak beriman (dengan iman yang benar) walaupun kamu sangat menginginkannya” (QS Yusuf:103).

Artinya: Mayoritas manusia walaupun kamu sangat menginginkan dan bersunguh-sungguh untuk (menyampaikan) petunjuk (Allah), mereka tidak akan beriman kepada Allah (dengan iman yang benar), karena mereka memegang teguh (keyakinan) kafir (dan syirik) yang merupakan agama (warisan) nenek moyang mereka[2]. Baca lebih lanjut…