Permasalahan tauhid sangat penting dalam pandangan Islam. Kesalahan dan penyimpangan dalam masalah ini sangat berbahaya, sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para ulama memberikan perhatian serius dalam permasalahan ini. Khususnya tauhid uluhiyah atau tauhid ibadah yang langsung menjadi intisari peribadatan setiap manusia.

Oleh karena itu, Ahlus Sunnah wal Jama’ah memandang kewajiban pertama bagi hamba Allah adalah syahadatain yang berisi tauhid uluhiyah dan mutaba’ah, sebagaimana dijelaskan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, “Sesungguhnya para salaf dan para imam sepakat memandang kewajiban pertama yang diperintahkan kepada hamba adalah syahadatain. Juga sepakat orang yang mengucapkan syahadatain sebelum baligh-nya tidak diperintahkan untuk memperbarui hal tersebut setelah (mencapai usia) baligh.” (Dar’u Ta’arudh al-Aqli wan-Naqli, 8/11)

Dasar dari kesepakatan ini dapat diringkas dalam empat dalil yaitu:

Semua utusan Allah (rasul) berdakwah kepada tauhid uluhiyah dan mengikhlashkan ibadah semata kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Hal ini dijelaskan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أَمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Dan sesungguhnya, Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu.’” (Qs. an-Nahl/16: 36)

Juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

وَمَآأَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلاَّنُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لآ إِلَهَ إِلآ أَنَا فَاعْبُدُونِ

“Dan Kami tidak mengutus seorang Rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya, ‘Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.’” (Qs. al-Anbiya`/21: 25)

Demikian juga banyak ayat turun menjelaskan individu para rasul yang menyeru kaumnya kepada tauhid uluhiyah, sebagai contoh adalah:

Nabi Nuh yang dijelaskan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَاقَوْمِ اعْبُدُوا اللهَ مَالَكُم مِّنْ إِلاَهٍ غَيْرُهُ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ

“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata, ‘Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa adzab hari yang besar (kiamat).’” (Qs. al-A’raf/7: 59)

Nabi Hud yang dijelaskan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا قَالَ يَاقَوْمِ اعْبُدُوا اللهَ مَالَكُم مِّنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ أَفَلاَ تَتَّقُونَ

“Dan (kami telah mengutus) kepada kaum ‘Aad saudara mereka, Hud. Ia berkata, ‘Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain dari-Nya. Maka, mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?” (Qs. al-A’raf/7: 65)

Nabi Shalih yang dijelaskan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَاقَوْمِ اعْبُدُوا اللهَ مَالَكُم مِّنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ

“Dan (kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka shalih. Ia berkata, ‘Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya.’” (Qs. al-A’raf/7: 73)

Nabi Syu’aib yang dijelaskan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَإِلَى مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا قَالَ يَاقَوْمِ اعْبُدُوا اللهَ مَالَكُم مِّنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ

“Dan (kami telah mengutus) kepada penduduk Madyan saudara mereka, Syu’aib. Ia berkata, ‘Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya.’” (Qs. al-A’raf/7: 85)

Dari dasar ini jelas nampak dua perkara:

Pada asalnya bani Adam bertauhid dengan benar dan itu berlalu sampai sepuluh abad antara Nabi Nuh dengan Nabi Adam.

Jelas kesyirikan yang terjadi pada manusia adalah kesyirikan dalam uluhiyah.

Setelah jelas dua hal ini, nampaklah para rasul diutus untuk mengajak manusia untuk bertauhid uluhiyah dengan benar dengan cara beribadah hanya kepada Allah dan tidak kepada selain-Nya. Dari sini, jelaslah kewajiban pertama seorang hamba adalah menauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan tauhid uluhiyah, ditambah lagi adanya dalil-dalil yang menunjukkan manusia dilahirkan dalam keadaan fithrah.

Setiap orang yang belum mengakui keberadaan Allah Subhanahu wa Ta’ala harus didakwahi pertama kali untuk mengakui hal ini yang akan menjadi sarana untuk mengakui peribadatan hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak pantas diberikan kepada selain-Nya. Dengan demikian, kewajiban mengakui adanya Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadi sarana mengetahui kewajiban yang inti yaitu tauhid uluhiyah, sebab pengakuan Allah saja tidak cukup.

Tujuan dari penciptaan manusia adalah ibadah.

Hal ini dijelaskan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَمَاخَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنسَ إِلاَّلِيَعْبُدُونِ

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (Qs. adz-Dzariyaat/51: 56)

Dalam ayat yang mulia ini Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan penciptaan manusia untuk tujuan ibadah, oleh karena itu perintah pertama kepada manusia adalah perintah ibadah dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.” (Qs. al-Baqarah/2: 21)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak dan memerangi manusia untuk mengucapkan syahadatain.

Hadits-hadits tentang hal ini sangat banyak hingga Abul Muzhaffar as-Sam’aani rahimahullah (wafat tahun 489 H) menyatakan, “Hadits-hadits yang menjelaskan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak orang-orang kafir kepada Islam dan syahadatain sudah mutawatir.” (Mukhtashar al-Intishaar Liahlil Hadits – ada dalam kumpulan kitab Shaun al-Mantiq, karya Imam as-Suyuthi, hal. 172)

Di antara hadits-hadits tersebut adalah:

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُولُوا لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ فَمَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ فَقَدْ عَصَمَ مِنِّى مَالَهُ وَنَفْسَهُ إِلاَّ بِحَقِّهِ وَحِسَابُهُ عَلَى اللَّهِ

“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga menyatakan ‘Laa Ilaaha Illa Allah’. Maka, siapa yang menyatakan ‘Laa Ilaaha Illa Allah’ maka telah melindungi harta dan jiwanya dariku, kecuali dengan haknya dan hisabnya ada pada Allah.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Hingga beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat kepada sahabat yang mulia Mu’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhu ketika mengutusnya ke Yaman dengan wasiat yang berbunyi:

إِنَّكَ تَقْدَمُ عَلَى قَوْمٍ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللَّهَ تَعَالَى

“Sesungguhnya kamu akan mendatangi satu kaum dari ahli kitab, maka hendaknya ajakan kamu kepada mereka yang pertama adalah mengajak mereka bertauhid.” (Muttafaqun ‘alaihi dan lafadznya adalah lafadz al-Bukhari)

Sampai-sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri ketika membai’at para sahabatnya, baik yang lelaki, maupun yang wanita mengawali bai’atnya dengan ucapan:

بَايِعُونِي عَلَى أَنْ لَا تُشْرِكُوا بِاللَّهِ شَيْئًا

“Berbai’atlah kalian untuk tidak berbuat syirik kepada Allah.” (HR al-Bukhori, lihat Fathu al-Baari 1/64)

Ijma’ para ulama salaf. Hal ini disampaikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah sebagaimana telah dijelaskan di atas dan juga Ibnu al-Mundzir radhiallahu ‘anhu (wafat tahun 318 H) menyatakan, “Semua ulama yang saya hafal bersepakat (ijma’), bahwa orang kafir apabila mengucapkan syahadatain (asyhaduan laa ilaaha illa Allah wa asyhaduanna Muhammadan abduhu warasuluhu), dan (meyakini) semua ajaran Muhammad adalah benar serta berlepas diri dari semua agama yang menyelisihi agama Islam dalam keadaan baligh dan berakal, maka ia adalah muslim” (Dinukil oleh Syeikhul Islam dalam kitab Dar’ut Ta’aarud al-Aql wan-Naql, 8/7)

Imam Abul Muzhaffar as-Sam’aani rahimahullah (wafat tahun 489 H) menjelaskan, bahwa pendapat yang menyatakan kewajiban pertama seorang adalah meneliti adalah pendapat bid’ah yang tidak dikenal di kalangan para sahabat dan tabi’in. Karena, seandainya sudah dikenal pastilah mereka nukilkan kepada kita, karena besarnya perhatian mereka terhadap agama ini. Apalagi yang diklaim adalah kewajiban pertama seorang manusia! Yang sudah terkenal mereka menyeru kepada Islam dan merekalah yang menyampaikan jalan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam dakwahnya. Hal ini menunjukkan yang sudah jelas pasti di kalangan mereka adalah dakwah pertama kepada orang kafir adalah syahadatain dan keduanya adalah kewajiban pertama dan utama (Lihat Mukhtashar al-Intishar Liahlil Hadits, hal. 171-172)

Demikian juga Ibnu al-Qayyim rahimahullah, “Kaum muslimin ber-ijma’ (sepakat -ed), bahwa orang kafir apabila mengucapkan Laa ilaaha illa Allah Muhammad Rasulullah, maka telah masuk Islam” (Madaarij as-Saalikin, 3/421)

Hal ini menunjukkan, bahwa syahadatain adalah kewajiban pertama seorang manusia dalam Islam.

Dari penjelasan dasar-dasar yang menunjukkan kewajiban pertama seorang adalah menauhidkan Allah dalam peribadatan yang mengandung di dalamnya jenis tauhid lainnya.

Satu Keharusan!

Mengajak manusia memahami dan meyakini tauhid dengan benar adalah satu keharusan yang wajib diperhatikan dan tidak diremehkan, karena itu adalah kewajiban utama dan pertama bagi para hamba Allah yang menginginkan kebahagian dunia dan akhirat. Ironisnya, banyak sekali kaum muslimin masih meremehkan dan tidak peduli dengan tauhid uluhiyah ini dengan tidak mempelajari dan mengajak orang kepada hal ini. Padahal, banyak sekali kesyirikan dilakukan kaum muslimin dalam keadaan mereka tidak mengetahui hal itu adalah kesyirikan dan lawan dari tauhid uluhiyah. Semua ini tidak lepas dari ketidaktahuan mereka terhadap tauhid uluhiyah dan kandungan serta tuntutannya.

Bila melihat kepada kejahilan banyak kaum muslimin terhadap tauhid uluhiyah ini tidak lepas dari beberapa sebab, di antaranya:

Kaum Muslimin belum mengerti urgensi tauhid dan kewajibannya seputar masalah ini.

Tidak adanya dakwah yang benar dalam menjelaskan kepada mereka permasalahan tauhid ini.

Adanya ke-bid’ah-an yang terus dikembangkan para musuh Allah dengan sengaja dan kaum muslimin sendiri tanpa sadar yang menutup dan menghalangi mereka mendengarkan kenbenaran,

Adanya para da’i yang menyeru mereka untuk meninggalkan ilmu dan meremehkan permasalahan tauhid ini.

Mengutamakan tradisi-tradisi budaya dengan mengesampingkan syariat, sehingga dengan dalih mengembangkan tradisi budaya mereka kembangkan beranekaragam kesyirikan, seperti sedekah laut dan sebagainya.

Hal-hal ini membutuhkan perhatian dan pengorbanan serta kesabaran yang tinggi dari para ulama, da’i dan orang-orang yang telah berpegang teguh kepada al-Qur`an dan sunnah di atas metode pemahaman salafush shalih dalam mempelajari, mengajak dan mengajarkan serta mengamalkan tauhid ini dalam setiap sendi kehidupannya.

Inilah satu keharusan yang tidak dapat ditunda-tunda lagi dalam upaya mencapai kejayaan ummat, sebagaimana hal ini telah memperbaiki generasi-generasi mulia terdahulu.

Lihatlah pernyataan Imam Malik bin Anas rahimahullah:

لاَ يُصْلِحُ آخِرَ هَذِهِ الأُمَّةِ إِلاَّ بِمَا صَلَحَ بِهِ أَوَّلُهَا

Tidak akan memperbaiki akhir umat ini, kecuali dengan sesuatu yang menjadikan awal umat ini baik.

Cukuplah contoh dakwah para Nabi sejak Nabi Nuh hingga Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai dasar dan dalil yang jelas kebenaran dakwah yang mengajak manusia mengenal tauhid uluhiyah.

Alangkah salah dan keliru orang yang tidak berdakwah kepada tauhid ini atau meremehkan dakwah tauhid ini, serta tidak sabar di atas hal ini.

Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.
Artikel: http://www.PengusahaMuslim.com