Penulis : Abu Abdirrahman Ali Khumais Ubaid

MEMO PENTING UNTUK PARA PRAKTISI RIBA

Segala puji hanya milik Allah -subhanahu wa ta’ala-, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi terakhir yang tidak ada nabi lagi seteIahnya. Amma ba'du:
Sesungguhnya orang yang memperhatikan realita kondisi kaum muslimin pada saat ini, maka dia akan mendapati bahwasanya masih banyak di antara mereka yang meremehkan atau menggampangkan masalah
riba, entah dengan memakannya, menjadi praktisi, menentukan hukum, mengambil pinjaman, menjadi saksi, penjamin, penulis, penganjur, pendorong atau pun pambantu dalam proses riba.
Seakan-akan urusan riba ini adalah merupakan satu kebolehan atau paling-paling merupakan hal yang makruh, atau hanya sebuah kemaksiatan kecil saja. Mereka tidak tahu bahwa ini termasuk perbuatan dosa besar yang Allah telah megumandangkan perang kepada para pelakunya di dunia dan akhirat, AIlah juga mengancam mereka dengan api neraka pada saat hari penghimpunan di hadapan-Nya. Dan yang lebih disayangkan lagi adalah, anda melihat
bahwa banyak dari mereka, baik tua atau muda bahkan para wanita yang penampilan mereka mencerminkan orang yang iltizam (konsisten) dengan ajaran Islam, namun tetap saja mereka terlibat dalam dosa besar ini, menganggap remeh hal tersebut dan bahkan mungkin berlombalomba menuju sana. Maka akhirnya mereka terbelenggu oleh hutang yang tidak ada yang tahu kecuali hanya Allah, sebagaimana mereka juga telah terbelenggu dengan kemarahan Allah aljabbar,
dengan laknatnya, dan kelak terbe-lenggu dengan siksanya jika mereka tidak mau bertaubat lalu taubatnya diterima oleh Allah.
Oleh karena itu maka aku memandang perlu untuk menyajikan di hadapan anda saudarasaudaraku fillah, beberapa ayat dan hadits-hadits Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, mudahmudahan akan mencegah dan menghalangi kita dari dosa besar, wabah penyakit berbahaya dan keburukan yang sangat nyata ini (riba).

PERTAMA:
AYAT-AYAT ALLAH MEMPERINGATKAN DARI RIBA

1. Pemakan Riba Ada di Antara Syetan dan Neraka
Allah -subhanahu wa ta’ala- berfirman,
“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya omng yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan. mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Rabbnya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah.
Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya." (QS. A1-Baqarah: 275)
Allah Tabaraka wa Ta'ala telah menjadikan pelaku riba tidak dapat berdiri pada hari kiamat kecuali berdirinya orang yang kesurupan setan lantaran tekanan penyakit gila, yakni ia seperti orang kerasukan. Ini salah atu hukuman bagi mereka, merupakan kehinaan dan keburukan yang sangat jelas. lalu Allah -subhanahu wa ta’ala- menegaskan dengan jelas keharaman riba dalam firman-Nya,
"Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba."
Selanjutnya Allah mengancam orang-orang yang tidak mau bertaubat dari riba setelah Allah rnengha¬rannkannya dengan ancaman api neraka, sebagaimana firman-Nya, “Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Rabbnya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang
larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya"
Maka para pelaku riba dalah penghuni nereka, kecuali jika Allah memberikan rahmatnya, dan Allah menerima taubatnya setelah mereka memohon am¬punan kepada Allah.

2. Harta Riba Terhalang Dari Barakah
Allah -subhanahu wa ta’ala- berfirman,"Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa." (QS. Al-Bagarah: 276)
Ayat ini merupakan peringatan dari Allah bahwasanya Dia tidak memberikan berkah pada harta riba, dan akan menghapuskannya, dalam arti Allah akan membinasakannya, dan benarlah apa yang difirman¬kan Allah.,
"Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia menambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah." (QS. Ar-Ruum: 39)
Dan itu semua demi Allah dapat kita saksikan sendiri pada hari ini, berapa banyak perusahaan dan bank bank yang berskala internasional atau daerah yang bangkrut karena sebab riba, berapa banyak keluarga yang berantakan karena sebab riba, berapa banyak wanita dan pria yang masuk penjara karena sebab riba. Sesungguhya itu adalah hukum
Allah maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran, namun sebagian yang lain Allah biarkan dan mereka bersenang-senang di dunia sampai akhirnya nanti Allah mengadzabnya di akhirat jika mereka tidak mau bertaubat.

3. Allah Mengumandangkan Perang Kepada Para Pelaku Riba
Allah -subhanahu wa ta’ala- berfirman,
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orung-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba.) maka ketahuilah bahwa Allah dan RasulNya akan memerangimu.
Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pakok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” (QS. Al-Baqarah: 278-279)

Ayat-ayat ini merupakan ancaman yang sangat berbahaya dan janji yang sangat keras kepada para praktisi riba, Allah telah memberitahukan bahwa jika mereka tidak mau bertubat, "maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasulnya akan memerangimu" Maksudnya
adalah tungggulah peperangan dari Allah dan rasul-Nya kepada kalian semua, maka siapakah yang mampu untuk berperang menghadapi Allah dan Rasul-Nya, kita memohon kepada AIlah keselamatan dan penjagaan. Pemuka tafsir Abdullah Ibnu Abbas -radhiyallahu ‘anhu- berkata tentang ayat ini, "Akan dikatakan pada hari Kiamat nanti kepada para pemakan riba, "Ambillah senjatamu untuk berperang." Dan bersumber dari beliau juga bahwasanya beliau berkata, Barang siapa yang bertahan terus dengan riba dan tidak mau berhenti atau tidak meninggalkannya maka merupakan hak imam kaum muslimin untuk
memintanya bertaubat, jika mau berhenti maka itulah yang diharapkan, dan jia tidak mau maka boleh dihukum mati." Disebutkan juga ucapan sernisal yang bersumber dari Al Hasan (al-Bashri) dan Ibnu Sirin. (silakan dirujuk dalam tafsir Ibnu Katsir jilid 1)

4. Allah -subhanahu wa ta’ala- Mengancam Para Pelaku Riba dengan
Perjumpaan yang Pasti denganNya

Allah -subhanahu wa ta’ala- berfirman,
"Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya." (QS Al-
Bag: 281)
Ayat ini merupakan peringatan dari Allah kepada para pelaku riba, agar mereka takut nanti pada hari Kiamat yang pada hari itu seluruh manusia kembali kepada Rabb mereka, lalu Allah menghisab mereka atas segala yang telah mereka lakukan.

5. Allah -subhanahu wa ta’ala-. Mengancam Pelaku Rlba dengan Api Neraka
Allah -subhanahu wa ta’ala- berfirman,
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertaqwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. Dan peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang kafir. Dan ta'atilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat." (QS. All Imran:130-131)

KEDUA:
HADITS-HADITS RASULULLAH -SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM- SEPUTAR RIBA

Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah memberitahukan tentang berbagai sifat dan keadaan orang yang melakukan praktek ribawi. Di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Riba Adalah Kehancuran dan Kebinasaan
Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah bersabda, “Jauhilah oleh kalian tujuh hal yang membinasakan, yakni menyekutukan Allah, sihir...,
dun memakan riba.” (Hadits muttafaqun alaihi). Makna al-mubiqat adalah al-muhlikat (yang menghancurkan), maksudnya adalah bahwa riba menyebabkan pelakunya menemui kehancuran di dunia dan di akhirat.

2. Riba Lebih Parah Daripada Zina
Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,
“Satu dirham dari riba yang dimakan oleh seseorang dan ia tahu itu (riba), maka lebih besar di sisi Allah daripada berzina tiga puluh enam kali.” (HR. Imam Ahmad dan ath Thabrani, lihat dalam Shahihul Jami' juz I nomer hadits 3375).
Alangkah dahsyatnya hadits yang menakutkan ini, sebab jika satu dirham saja dari riba lebih parah daripada dosa zina yang bukan hanya sekali namun tiga puluh enam kali, maka bagaimana lagi dengan orang yang memakan ribuan dan bahkan jutaan riba, demikian juga
sebagian orang lain yang berserikat dengan mereka dalam riba, membantu mereka, menolong dan mempermudah urusan pinjaman ribawi, menjadi pengurus atau minta diuruskan, atau mewajibkan mereka untuk melakukan itu, ataupun memberikan sanksi kepada mereka jika tidak mau menjalankannya (menjalankan tugas menurut istilah mereka, pen).
Komentar saya dalam hal ini, "Sesungguhnya kita semua tidak boleh memaksakan kepada orang untuk melaksanakan kewajiban syar'i, maka bagaimanakah kita berani mewajibkan mereka dengan perkara-perkara haram" Maha Suci Engkau ya Allah, ini adalah sebuah kedustaan yang amat besar.

3. Semua yang Terlibat Dalam Riba Diancam Dengan Laknat
Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,
“Allah melaknat orang yang memakan riba, yang memberi makan dengannya, kedua saksinya, dan penulisnya”, lalu beliau bersabda, “Mereka semua itu adalah sama saja.” (HR. Muslim)

Hadits shahih ini secara tegas menjadi hujjah atas siapa saja yang membatu para pemakan riba. Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- menjadikan laknat kepada semua pihak yang terlibat, dan beliau beritahukan bahwa mereka itu adalah sama. Apabila seorang penulis,
saksi adalah satu sekutu maka bagaimanakah dengan orang yang mengurusiya, atau orang yang sengaja menyebarkan dan memasang iklan untuk mengajak manusia kepada riba,yang menganjurkan atau… kami memohon kepada Allah keselamatan dan penjagaan.
Satu hal yang perlu diperhatikan di sini, bahwa kalimat katib (penulis) yang terdapat dalam hadits adalah mencakup seluruh penulisan tatkala proses pengurusan akad riba, dan seluruh penulisan yang terjadi setelah akad ini maka masuk dalam akad yang yang diharamkan juga
(kerena merupakan kelanjutannya, pen).

4. Riba Mendatangkan Adzab Bagi Seluruh Umat
Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,
Artinya, “Apabila telah tampak perzinaan dan riba di suatu negeri, maka mereka berarti telah menghalalkan adzab Allah untuk diri mereka.” (HR. Ath-Thabrani, al- Hakim dan hadits ini ada di Shahihul Jami al-Albani juz 1 hadits no.679).

Subhanallah! Sesungguhnya di masa ini hadits ini benar-benar terbukti, di mana telah banyak menyebar perzinaan dan riba, kita memohon kepada Allah agar menyelematkan kita dari adzab dan siksa-Nya

5. Orang Yang Mempraktekkan Riba Seakan-akan Menzinahi Ibunya
Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,
“Riba itu naemiliki tujuh pululuan pintu, yang paling ringan adalah seperti seseorang yang menikahi ibunya sendiri.” (Hadits ini ada di Shahihul Jami, al-Albani juz 1 no. 3541).

Jikalau pintu yang paling ringan dari riba adalah seperti seseorang yang menikahi ibunya -na'udzubillah min dzalik- maka bagaimanakah dengan pintu riba yang lebih besar lagi yang saat ini banyak digeluti oleh manusia.

6. Riba Itu Sedikit Meskipun Terlihat Banyak
Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah bersabda,
“Riba meskipun banyak namun akibatnya akan menjadi sedikit.” (HR. al-Hakim,dalam Shahihul Jami', al-Alberni juz 1 no. 3542).

Hadits ini bersesuaian dengan firnian Allah Ta'ala, “Allah memusnahkan riba dan rnenyuburkan sedekah.” Ini merupakan peringatan bagi para pelaku riba, bahwasanya harta riba meskipun banyak pada suatu hari namun akhirnya dan penghujungnya adalah kehancuran dan kebinasaan. Dan ini dapat kita saksikan sendiri dalam kenyataaan, para
pelaku riba akan selalu diberi cobaan oleh Allah dengan dijauhkan dari barakah dalam harta yang dia peroleh, Allah selalu menguji mereka dengan musibah, penyakit, kecelakaan sehingga mereka menghabiskan uang tersebut untuk keperluan itu, mereka tidak merasakan nikmat dengan uang itu, atau bahkan mereka mengalami kerugian dalam
perdagangan, atau Allah mengakhirkan mereka semua nanti pada hari Kiamat, dan ini tentu lebih dahsyat lagi.

7. Pelaku Riba Diceburkan di Sungai Darah
Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,
“Bahwasanya beliau didatangi oleh dua malaikat lalu mereka berkata, “Marilah ikut bersama kami”, hingga akhirnya dua malaikat itu membawa beliau ke sebuah sungai darah, di dalam sungai tersebut ada seorang yang sedang berenang. Sementara itu di pinggir sungai ada orang lain yang menghadap ke bebatuan dan ia memandang ke arah orang yang
berenang di tengah sungai. Jika orang yang di tengah sungai itu ingin keluar darinya maka laki-laki yang di pinggir kali melempari mulutnya dengan batu, sehingga ia kembali lagi ke tempatnya semula. Lalu Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- berkata, "Aku bertanya kepada
dua malaikat tentang orang yang berada di sungai itu, maka mereka menjawab, "Adapun orang yang engkau datangi tadi yang berenang di sungai lalu mulutnya disumpal batu dia adalah pemakan riba.” (HR. al-Bukhari)
Dari hadits ini jelas sekali bagaimana kerasnya hukuman bagi orang yang memakan riba, yakni dia dilemparkan ke dalam sungai darah, dan setiap dia akan keluar dari sungai tersebut maka dikembalikan lagi ke dalamnya, dan demikian seterusnya, semen¬tara di dua dia mengira bahwa darinya hidup dalam kenikmatan.

8. Riba Dengan Syirik
Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah bersabda,
“Riba memiliki lebih dari tujuh puluhan pintu, dan syirik juga demikian.” (HR. Al-Bazzar, dan Ibnu Majah, dan ia ada di dalam Shahihut Targhib karya al-Albani, juz 2 no. 1852).
Maka perhatikanlah wahai saudara-saudaraku bagaimana Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- telah menggabungkan antara riba dengan syirik di dalam satu hadits Ini menunjukkan betapa besarnya bahaya riba.

9. Riba Pertanda Kiamat
Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Menjelang kedatangan hari Kiamat tampak (menyebar) riba, perzinaan dan khamar (miras).” (HR. ath-Thab¬rani, lihat Shahihut Targhib wat Tarhib no. 1861). Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah menjadikan diantara tanda-tanda akan datangnya hari Kiamat adalah munculnya riba.

10. Pelaku Riba Telah Menghalangi Diri Dari Ampunan Allah
Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah besabda,
“Jauhilah oleh kalian semua dosa-dosa yang tidak diampuni.” Dan beliau menyebutkan salah satunya adalah memakan riba. (HR ath-Thabrani dan hadits ada di Shahihut Targhib wat Tarhib no.1862).

Makna dari hadits tersebut bukan berarti bahwa orang yang memakan riba itu meskipun sudah ber¬taubat dengan taubat nasuha, maka dia tetap tidak diampuni oleh Allah. Namun maksudnya adalah bahwa itu merupakan pejelasan tentang besar dan bahayanya memakan riba. Ini disebabkan karena sudah menjadi kesepakatan umat bahwa orang yang bertaubat dari dosanya maka Allah akan menerima taubatnya itu, baik berupa dosa kecil ataupun dosa besar, dan ini semua telah disebutkan dengan jelas di dalam Kitabullah dan as-Sunnah.

11. Pelaku Riba Diancam Akan Diubah Rupanya Menjadi Kera atau Babi
Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,
“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh akan ada sekelornpok orang dari umatku yang berada dalam keburukan, kesombongan, permainan dan kesia-siaan, maka jadilah mereka itu kera dan babi-babi dengan sebab mereka menganggap halal apa-apa yang haram dan dengan sebab memakan riba.” (Shahih at-Targhib no.1864)

12. Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- Meletakkan Riba di bawah Telapak kakinya Sebagai Perendahan dan Penghinaan Terhadap para Pelakunya. dan Beliau Menganggapnya Sebagai Perbuatan Jaahiliyah.
Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah bersabda di dalam haji wada', “Ketahuilah bahwa segala sesuatu dari perkara jahiliyah itu berada di bawah telapak kakiku, dan riba jahiliyah telah diletakkan (dihapuskan), dan riba pertama kali yang aku letakkan (aku hapus) adalah riba kami, riba al-Abbas bin Abdul Muthalib, semua itu telah
dihapuskan.'' (HR. Muslim no. 1218, bab haji Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Imam an-Nawawi berkata dalam syarah hadits ini, "Adapun sabda Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- "Berada di bawah telapak kakiku" adalah merupakan isyarat penghapusan riba, dan juga yang dimaskud dengan meletakkan adalah menolak dan membatalkannya (menghapusnya).”

RIBA DAN HUTANG

Sesungguhnya riba merupakan sebab yang sangat besar dari sebab-sebab para pemakai jasa ribawi terlilit hutang. Karena setiap kali hutang yang awal sudah hampir lunas maka biasanya dia mengambil hutang lagi, demikian seterusnya hingga akhirnya hutang tersebut menumpuk.

Padahal Islam mengangap hutang adalah masalah yang sangat besar yang berkaitan dengan hak sesama hamba, sebagaimana dalam tiga hadits berikut ini:
1. Sabda Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-,
Jiwa seorang mukmin itu tergantung dengan hutangnya sehingga hutang tersebut dilunasi.' (HR. Imam Ahmad, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah, lihat Shahihul Jami al-Albani juz 2 no hadits 6779)

2. Sabda Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-,
Dari Salamah bin al-Akwa' dia berkata, "Kami duduk di sisi RasululIah -shallallahu ‘alaihi wasallam-, tiba-tiba ada jenazah yang dibawa kepada beliau.. Ialu dibawa kepada beliau jenazah yang ke tiga, maka orang-orang berkata, "Silakan anda rnenya¬latinya, maka Nabi
bertanya, "Apakah dia meninggalkan sesuatu? Orang-orang menjawab, Tidak. " Lulu Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bertanya, "Apakah dia mempunyai hutang?" Mereka menjawab, "Tiga dinar." Nabi bersabda, "Shalatlah kalian semua untuk ternan kalian ini."
(Hadits shahih, dapat diperiksa di Kitabul Janaiz karya Syaikh al-AIbarii).

3. Sabda Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-,
Dari Abu Qatadah -radhiyallahu ‘anhu- bahwasanya Rosululloh -shallallahu ‘alaihi wasallam- suatu ketika berada di antara para shahabat, lalu beliau menyebutkan bahwa jihad fi sabilillah dan iman kepada Allah adalah merupakan amal yang paling utama, lalu seseorang berdiri dan bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika aku
terbunuh di jalan Allah apakah dosa-dosaku diampuni? Maka Rasulullah -shallallahu ‘alaihiwa sallam- bersabda," Ya, jika engkau terbunuh di jalan Allah dan engkau sabar, berharap pahala Allah, engkau maju dan tidak mundur." Lalu beliau berkata, "Bagaimana tadi kamu berbicara? Orang itu menjawab, "Apakah pendapat anda jika aku terbunuh di jalan Allah, apakah dosa-doaku dihapuskan? Maka Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- menjawab, "Ya, jika kamu sabar, berharap pahala Allah, maju dan tidak mundur, kecuali hutang karna jibril alaihissalam mengatakan demikian kepadaku"

Perhatikanlah wahai saudaraku fillah! Bagaimana besarnya urusan hutang ini, yang pertama adalah bahwa jiwanya masih tergantung hingga hutang tersebut dibayar, lalu Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- tidak meyolatkan jenazah orang yang masih menanggung hutang, sedangkan dia tidak meninggalkan sesuatu yang dapat digunakan untuk membayarnya. Dan terakhir Allah -subhanahu wa ta’ala- mengampuni seluruh dosa dan kesalahan orang yang mati
syahid, dosa besar atau pun kecil, kecuali hutang Dan di antara yang menunjukkan besarnya masalah hutang adalah bahwa Nabi -shallallahu
‘alaihi wa sallam- tidak menyebutkan kalimat "kecuali hutang" dalam sabda beliau yang pertama, barulah kemudian Allah mengutus jibril alaihissalam untuk memberitahu beliau tentang kalimat "kecuali hutang" tersebut Dan urusannya akan semakin bertambah besar dan semakin besar manakala kita tahu bahwa hadits tersebut di atas menceritakan tentang hutang yang dilakukan dengan cara yang syar'i.

Maka atas dasar ini kita bertanya bagaimanakah apabila hutang tersebut dilakukan dengan cara yang betentangan dengan syari'at (riba misalnya, pen). Tidak diragukan lagi bahwa hal tersebut lebih buruk urusannya, lebih keji dan berbahaya, karena di sana terkumpul pada diri seseorang bahaya berhutang dan sekaligus bahaya dari sumber pengambilannya yakni dari riba yang jelas haram. Maka apakah kita semua mau bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla dan bertaubat dari
riba dan berhutang kepada sesama hamba?

KETIGA:
PENDAPAT ULAMA DAN KALIMAT KEBENARAN SEPUTAR RIBA

Seluruh ummat beserta segenap ulamanya, baik yang terdahulu maupun yang datang kemudian telah sepakat bahwa riba adalah haram Dan mereka juga menegaskan bahwa bunga yang diambil dari bank atau lainnya adalah haram. Mereka juga sepakat bahwa siapa saja yang
menghalalkan riba maka ia telah kafir, dan barang siapa yang melakukan dosa besar (riba) dengan keyakinan bahwa hal itu adalah haram maka berarti telah melakukan dosa besar, dan ia seorang fasiq, berani memerangi Allah dan Rasul-Nya.

Para ulama juga telah menetapkan haramnya bunga yang telah dipatok, misalnya sebesar 3%, 5%, 7%, 9% atau 12% dan seterusnya baik lebih kecil atau lebih besar lagi. Telah banyak diadakan muktamar-muktamar dalam masalah fiqih, dan juga Al Mu'tamar al-Fiqh al-Islami yang telah menegaskan haramnya itu semua Para ulama juga telah mambantah mereka yang menghalalkan bunga bank dan merontokkan hujjah-hujjah mereka secara total. Dalam masalah ini dapat dirujuk dalam kitab Al Fiqh al-Islami karya Dr. Wahbah al-Zuhaili juz 9 halaman 334 dan seterusnya, juga kitab Al-Iqtishad al-Islami karya Dr. AIi Al Salus juz I halaman 100 dan selanjutnya. Dan tidak ada bedanya antara bunga dalam jumlah kecil ataupun dalam jumlah yang lebih besar lagi, semuanya adalah riba yang diharamkan.

KE EMPAT:
TIDAK ADA KETAATAN KE PADA MAKHLUK DALAM MAKSIAT KEPADA ALLAH AL-KHALIQ

Diharamkan atas setiap muslim untuk mengikuti, mendengarkan, dan menaati seseorang dalam rangka melaksanakan dosa riba ini, karena tidak ada ketaat¬an terhadap makhluk dalam rangka maksiat kepada al-Khaliq (Allah). Dalil yang rnenunjukkan hal ini adalah sabda Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Wajib atas seseorang untuk mendengar dan taat dalam sesuatu yang ia sukai atau yang ia benci, kecuali diperintahkan untuk bermaksiat, maka jika diperintahkan untuk bermaksiat tidak boleh mendengar dan taat.” (HR al-Bukhari dan Muslim).
Hadits ini sangat gamblang dan terang mejelaskan bahwa tidak boleh mendengar dan taat, jika seseorang disuruh untuk bermaksiat. Dan seluruh umat telah sepakat bahwa hukumnya haram bagi seorang muslim untuk menaatai seseorang di dalam bermaksiat kepada Allah dan
RasulNya. Untuk mengetahui bahahayanya masalah ini silakan merujuk ke tafsir dari ayat 59 surat an-Nisaa' dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir juz 1 halaman 816, serta tafsir as-Sa'di halaman 148. Demikian juga silakan periksa ayat 44 sampai ayat 50 dari surat al-Maidah dan kitab At
Tasyri' al Jina'iy karya Ustadz Abdul Qadir Audah juz 2 halaman 708 dan seterusnya.

KE LIMA:
TIDAK ADA PAKSAAN DAN DARURAT

Sangat disayangkan bahwasanya sebagian orang ada yang mengatakan bahwa dirinya terpaksa dan dalam keadaan darurat (dalam hal riba). Ini adalah tidak benar, karena paksaan atau kondisi darurat adalah jika seseorang akan kehilangan kehidupannya atau dia akan mati
kelaparan dan tidak bisa tidak, atau dia memang tidak mempunyai jalan keluar lagi kecuali dengan malakukan sesuatu yang terpaksa tadi. Kondisi tersebut sama sekali tidak ada dalam realita saat ini, maka bagaimanakah kita bisa menipu diri sendiri dan mengaku dalam keadaan
terpaksa atau darurat. Ingatlah, mari kita bertakwa kepada Allah, dan hendaknya kita tahu bahwa keselamatan dalam soal agama lebih didahulukan daripada harta dunia, dan perlu kita ketahui bahwa itu semua adalah ujian dari Allah, apakah kita akan mengedepakan keridhaan Allah atau keridhaan diri sendiri, hawa nafsu dan harta kita.
Ingatlah, mari segera kita kumandangkan, bahwa: "Memakan sepotong roti dengan minyak, serta tinggal di gubug (tenda) dalam kehalalan lebih kita cintai daripada memakan madu dan tinggal di dalam rumah yang megah tetapi haram." Lebih lanjut dapat dirujuk nanti dalam soal
jawab di dalam buku ini.

Besambung ke Hidup Bahagia Tanpa Riba (2)
Sumber :
E Book Hidup Bahagia Tanpa Riba
Penulis :Abu Abdirrahman Ali Khumais Ubaid