Diare atau mencret, merupa-kan penyakit yang sudah dikenal oleh semua orang. Penyakit ini mudah dikenali, karena gejalanya sangat jelas yaitu, buang air besar yang lebih sering dari biasanya, dengan tinja yang lembek sampai cair. Kemudian penderita akan merasa lemas, perut sakit/ mules, terkadang disertai pula dengan mual dan muntah, panas, serta sakit kepala. Bahkan ada pula yang diarenya kemudian bercampur darah dan lendir.

Di negara berkembang, diare masih merupakan penyakit yang sangat sering terjadi, khususnya pada balita. Secara keseluruhan, rata-rata mengalami 3 kali episode diare per tahun. Bahkan di beberapa daerah dapat lebih dari 9 kali per tahun. Jadi tidak mengherankan bila masyarakat sudah sangat mengenal penyakit ini. Menurut Depkes, di Indonesia setiap anak mengalami diare rata-rata 1 sampai 2 kali setahun.

Diare merupakan salah satu penyebab dari kekurangan gizi.
Hal ini disebabkan adanya anoreksia (tidak ada nafsu makan) pada penderita, dan kemampuan tubuh untuk menyerap sari makanan berkurang. Padahal, sebetulnya saat orang sedang menderita diare justru kebutuhan sari makanan meningkat dikarenakan adanya infeksi. Perlu diketahui, setiap episode diare akan menyebabkan kekurangan gizi, sehingga bila episode diare berkepanjangan, maka akan sangat berdampak pada status gizinya, yang tentu saja akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak.

KAPAN DISEBUT DIARE ?
Diare menurut definisinya adalah, keluarnya tinja yang lunak atau cair sebanyak tiga kali atau lebih dalam satu hari. Tetapi definisi tidak bisa dipakai pada bayi umur beberapa minggu, ini dikarenakan bayi yang hanya minum air susu ibu (ASI), berak atau buang air besarnya bisa 6-8 kali sehari, dengan kondisi tinja yang lunak atau agak cair.
Pada bayi, ini sesuatu yang normal. Berdasarkan hal tersebut, secara praktis diare pada anak bisa didefinisikan sebagai meningkatnya frekuensi tinja atau konsistensinya menjadi lebih lunak dari biasanya, sehingga hal itu dianggap tidak normal oleh ibunya.

Secara klinik, diare bisa dibedakan menjadi 3 macam yaitu,
1. diare cair akut,
2. disentri, dan
3. diare persisten.

1. Diare cair akut.
Adalah diare yang terjadi secara akut, dan berlangsung kurang dari 14 hari (bahkan kebanyakan kurang dari 7 hari), dengan tinja yang lunak atau cair yang sering dan tanpa darah, terkadang bisa disertai muntah dan panas. Diare ini sering disebabkan karena rotavirus. Kuman yang lain misalnya E. Coli, V. Cholera,dll.

Disentri.
Adalah diare yang disertai darah dalam tinja. Hal ini disebabkan karena adanya kerusakan dinding bagian dalam usus karena adanya bakteri yang mampu menembus dinding usus. Disentri ini sering disebabkan karena adanya bakteri Sigella, Amoeba, E.Coli.

Diare Persisten.
Adalah diare yang mula-mula bersifat akut, namun berlangsung lebih dari 14 hari. Dapat dimulai sebagai diare cair akut atau disentri. Diare persisten sering disebabkan oleh beberapa bakteri/ kuman yang masuk dalam tubuh seorang anak.

PENULARAN DIARE
Kuman diare biasanya menular melalui mulut, bisa melalui makanan/ minuman yang tercemar tinja, atau kontak langsung dengan tinja penderita. Pada saat musim buah (mangga, durian, rambutan) dan musim hujan seperti saat ini, maka lalat biasanya juga menjadi banyak, sehingga sangat berperan dalam penularan penyakit diare. Apabila lalat hinggap di tinja kemudian hinggap di makanan/ alat makan, maka akan bisa menularkan pada anak yang memakan makanan tadi. Untuk mencegah atau agar makanan tidak dihinggapi lalat, maka lebih baik menutup setiap makanan yang ada.
Sedangkan untuk mencegah penularan, hendaknya setiap kali member-sihkan tinja anak yang menderita diare, harus segera cuci tangan. Selain itu jangan menganggap bahwa tinja bayi yang diare itu tidak berbahaya, karena sesungguhnya tinja bayi tadi kenyataannya mengandung virus atau bakteri.

PENCEGAHAN DIARE
Untuk menghindari supaya tidak tertular diare, berikut cara pencegahan yang bisa dilakukan.

1. Pemberian air susu ibu (ASI) secara eksklusif, sampai umur 4 - 6 bulan.
Pemberian ASI mempunyai banyak keuntungan bagi bayi atau ibunya. Bayi yang mendapat ASI lebih sedikit dan lebih ringan episode diarenya dan lebih rendah risiko kematiannya jika dibanding bayi yang tidak mendapat ASI. Dalam 6 bulan pertama, kehidupan risiko mendapat diare yang membutuhkan perawatan dirumah sakit dapat mencapai 30 kali lebih besar pada bayi yang tidak disusui daripada bayi yang mendapat ASI penuh. Hal ini disebabkan karena ASI tidak membutuhkan botol, dot, dan air, yang mudah terkontaminasi dengan bakteri yang mungkin menyebabkan diare.

ASI juga mengandung antibodi yang melindungi bayi terhadap infeksi terutama diare, yang tidak terdapat pada susu sapi atau formula. Saat usia bayi mencapai 4 - 6 bulan, bayi harus menerima buah-buahan dan makanan lain untuk memenuhi kebutuhan gizi yang meningkat, tetapi ASI harus tetap terus diberikan paling tidak sampai umur 2 tahun.

2. Hindarkan penggunaan susu botol.
Seringkali para ibu membuat susu yang tidak langsung habis sekali minum, sehingga memungkinkan tumbuhnya bakteri. Juga dot yang jatuh, langsung diberikan bayi, tanpa dicuci. Botol juga harus dicuci dan direbus untuk mencegah pertumbuhan kuman.

3. Penyimpanan dan penyiapan makanan pendamping ASI dengan baik, untuk mengurangi paparan dan perkembangan bakteri.

4. Penggunaan air bersih untuk minum.
Pasokan air yang cukup, bisa membantu membiasakan hidup bersih seperti cuci tangan, mencuci peralatan makan, membersihkan WC dan kamar mandi.

5. Mencuci tangan (sesudah buang air besar dan membuang tinja bayi, sebelum menyiapkan makanan atau makan).

6. Membuang tinja, termasuk tinja bayi secara benar.
Tinja merupakan sumber infeksi bagi orang lain. Keadaan ini terjadi baik pada yang diare maupun yang terinfeksi tanpa gejala. Oleh karena itu pembuangan tinja anak merupakan aspek penting pencegahan diare.

7. Imunisasi Campak.
Anak-anak yang menderita campak mempunyai resiko lebih tinggi untuk terjangkit diare atau disentri yang berat dan fatal. Karena kuatnya hubungan antara campak dan diare, imunisasi campak yang diberikan dapat mencegah sampai 25 % kematian balita.

YANG PERLU DIWASPADAI DAN DILAKUKAN Akibat diare pada anak yang sering kali bersifat fatal adalah, keadaan yang disebut dengan dehidrasi, yaitu hilangnya cairan dan elektrolit dari tubuh akibat diare yang tidak bisa diimbangi dengan pemasukkan cairan lewat mulut (minum).

Hal ini disebabkan karena jumlah cairan yang keluar lebih banyak dibanding yang bisa masuk, sebagai akibat adanya muntah atau memang terlalu berat diarenya.

Terapi dirumah adalah bagian yang penting dari tatalaksana dari diare agar anak tidak dehidrasi. Bila anak mengalami diare, beri cairan lebih banyak dari biasanya, untuk mencegah dehidrasi.

Bermacam-macam cairan bisa diberikan sebagai pengobatan dini untuk mencegah dehidrasi.
Beberapa macam cairan keluarga bisa berupa air tajin, sup, atau yoghurt.
Tetapi bila ada, berilah oralit yang sudah banyak tersedia di apotik/toko obat. Apabila anak masih minum ASI, tetap harus diberikan tanpa batas, semau anak. Bila sudah mendapat makanan pendamping ASI (yang berumur lebih dari 4 -6 bulan), makanan tetap harus diberikan, untuk mencegah kekurangan gizi, sedikitnya 6 kali sehari. Sebaiknya menghindari teh yang sangat manis, kopi, soft drink dan minuman buah komersial yang manis, karena akan memperparah diarenya.

Apabila tinja yang keluar cair dan amat sering, muntah berulang, anak tidak dapat makan/minum seperti biasanya, harus diwaspadai; sebaiknya segera dibawa ke rumah sakit. Apalagi bila sudah tampak tanda-tanda dehidrasi (anak rewel,gelisah,nampak kehausan, mata cekung, bibir kering, kencing berkurang, badan panas, nafas yang cepat) anak sudah memerlukan cairan infus untuk mengejar kehilangan cairan akibat diare/muntah.

Sebaiknya jangan sampai terlambat membawa ke rumah sakit. Karena apabila sudah jatuh ke dalam keadaan dehidrasi berat, akan lebih sulit untuk mengatasinya. Ini disebabkan karena semua pembuluh darahnya mengempis, sel-sel tubuh akan rusak/ mati, sehingga sangat besar kemungkinan untuk terjadi kematian. Tentunya kita tidak ingin kehilangan anak- anak kita akibat diare.

Diare sebetulnya tidak akan berakibat fatal apabila tidak terlambat dalam pemberian cairan untuk mengatasi dehidrasi. Karena kematian pada diare adalah disebabkan karena dehidrasi ini. Jadi yang penting dilakukan pada anak yang diare adalah mencegah jangan sampai mengalami dehidrasi. Tetapi hal yang paling baik adalah mencegah jangan sampai mengalami diare.

Bukankah pencegahan itu lebih baik dari pada mengobati? *

Ditulis oleh Dr. Sedyo Wahyudi, SpA
Artikel http://www.majalahkasih.pantiwilasa.com

Dipublikasihkan di http://www.moslemsubang.wordpress.com