Kebahagiaan layaknya harta karun.
Betapa banyak manusia yang menginginkannya. Namun sebanyak itu pula manusia gagal mendapatkannya. Terpendam begitu dalam. Tertimbun kerakusan dan ketamakan dunia.
Sebagian manusia mencarinya dengan menumpuk uang di bank, ada juga yang mencarinya dengan mengoleksi barang-barang mewah di rumah-rumah mereka. Tapi benarkah hal itu merupakan salah satu kunci untuk membuka harta karun tersebut?

PETA YANG SALAH

Sebagian besar insan menganggap materi adalah segalanya.
Mereka mengira bahwa hanya dengan hartalah seseorang dapat menjadi kaya. Mereka menyangka bahwa hanya dengan hartalah mereka dapat memiliki apa yang manusia inginkan, yaitu kebahagiaan. Seakan-akan harta adalah standarisasi kekayaan. Seolah-olah materi adalah harga mati kebahagiaan seseorang. Namun realita berbicara lain. Tidak sedikit manusia dengan segudang harta namun selalu merasa kurang untuk memenuhi kebutuhan mereka. Tidak sedikit pula manusia hidup mewah bergelimang harta tapi hati mereka jauh dari kebahagiaan. Entah itu karena sakit, sibuk, dan lain sebagainya, sehingga tidak mampu menikmati harta kekayaannya.
Inilah kenyataan yang menepis semua persepsi keliru yang mendarah daging di benak kebanyakan kita.

Renungkanlah! Jika saja kebahagiaan manusia dinilai dari harta, maka tentu Allah Ta’ala akan mengutus para Rasul-Nya dengan membawa dinar dan dirham. Jika saja kebahagiaan manusia dinilai dari harta, maka tentu semua para Nabi hidup kaya bergelimang harta. Namun, tidaklah demikian, saudaraku.

JALAN MENUJUNYA

Jadi, apa yang menjadi tolak ukur kekayaan seseorang?
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, akan tetapi kekayaan itu adalah kaya hati." (HR. Bukhari)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: "Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta benda kalian, tetapi Dia hanya memandang kepada amal dan hati kalian.” (HR. Muslim)

Sungguh, syari’at telah menjelaskan jalan sebenarnya menuju kebahagiaan, yaitu kaya hati. Bukan kaya harta sebagaimana yang kebanyakan manusia kira. Lalu, apa yang dimaksud kekayaan hati?

Imam Nawawi rahimahullah berkata:
“Kekayaan yang terpuji adalah kayanya jiwa dan sedikitnya ketamakan terhadapnya. Bukanlah yang dimaksud (kekayaan) adalah banyaknya harta dan kerakusan untuk selalu ingin menambahnya. Karena barangsiapa yang selalu meminta tambahan dan tidak pernah merasa cukup dengan apa yang dia miliki, maka sejatinya dia tidak memiliki kekayaan.” [Syarh Shohih Muslim]

Itulah qona’ah. Merasa cukup dengan apa yang Allah telah berikan kepadanya. Sebuah akhlak mulia yang terlupakan oleh kebanyakan dari kita. Padahal dialah kunci harta karun yang akan membukakan kebahagiaan kepada pemiliknya.

KUNCI HARTA KARUN

Lalu, bagaimana meraih kunci harta karun tersebut?
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Lihatlah kepada orang yang lebih rendah dari kalian, dan janganlah kalian melihat orang yang lebih tinggi dari kalian, sesungguhnya hal itu lebih baik agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah. (HR. Muslim)

Imam Nawawi rahimahullah berkata: “Ibnu Jarir rahimahullah berkata: ‘betapa banyak kebaikan terkandung dalam hadits ini, karena manusia apabila melihat seseorang yang dilebihkan atasnya perkara dunia, maka ia akan meminta untuk dirinya semisalnya. Sehingga dia meremehkan nikmat Allah yang ada pada dirinya dan menginginkan tambahan nikmat dengan tamaknya agar semisal dengannya. Ini tedapat di sebagian besar manusia. Adapun apabila dia melihat kepada orang yang lebih rendah dalam perkara dunia, maka akan tampak bahwa dia diberi nikmat yang banyak dari Allah. Sehingga dia bersyukur atasnya dan rendah hati, sehingga dia telah melakukan kebaikan di dalamnya’.” (Syarh Shohih Muslim)

HARTA KARUN SEJATI

Allah Ta’ala berfirman:
"Barangsiapa yang beramal shalih baik laki-laki atau pun perempuan dalam keadaan ia beriman, maka Kami akan memberikan kepadanya kehidupan yang baik dan Kami akan membalas mereka dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang mereka amalkan." (An-Nahl: 97)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata:
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu menafsirkannya dengan sifat qana'ah (merasa cukup), demikian pula yang dikatakan Ibnu 'Abbas, 'Ikrimah dan Wahb bin Munabbih. Berkata 'Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu 'Abbas: "Sesunggguhnya kehidupan yang baik itu adalah kebahagiaan." (Tafsir Ibnu Katsir)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sungguh amat beruntunglah seorang yang memeluk Islam dan diberi rizki yang cukup serta qana'ah terhadap apa yang diberikan Allah." (HR. Muslim)

Sungguh, qona’ah adalah tanda kekayaan hati yang dengannya seseorang meraih harta karun sejati: kebahagiaan hakiki. Ia merasa cukup dengan apa yang telah Allah gariskan untuknya, sehingga hatinya jauh dari rasa penat, rasa sedih, dan kekecewaan. Ia pasrah dan tunduk terhadap takdir Allah. Hatinya jauh dari jerat-jerat hasad dan kebencian. Inilah kebahagiaan yang sangat jarang kita temui di kebanyakan kaum muslimin. Inilah harta karun sejati yang layak untuk diburu oleh orang yang beriman.

SAATNYA BERBURU!

Harta karun orang mukmin adalah kebahagiaan dan salah satu kuncinya adalah qona’ah. Setelah mengetahui hal ini, tidak ada alasan lagi buat kita, orang mukmin, untuk tidak segera memburunya. Orang yang miskin harta maupun bergelimang harta memiliki kesempatan sama untuk meraihnya. Karena kunci harta karun tersebut terletak di hati, yang semua manusia di muka bumi ini memilikinya.

Sekarang, tiba saatnya untuk memanage hati kita untuk selalu merasa cukup dengan apa yang telah Allah berikan untuk kita, untuk tidak mengeluh dengan harta yang sedikit dan tidak merasa pongah dengan harta yang banyak. Ketahuilah, bahwa rezeki kita telah ditetapkan. Tidak ada seorang pun yang kuasa merampasnya. Tidak akan meninggal seorang hamba hingga ia mendapatkan seluruh rezekinya yang telah Allah Ta’ala tuliskan di Lauhul Mahfuzh.

Hasan al-Bashri rahimahullah pernah ditanya tentang rahasia kezuhudan beliau, maka beliau pun menjawab: “Saya mengetahui bahwa tidak ada seorang pun yang mengambil rezekiku, maka tenanglah hatiku. Saya mengetahui bahwa tidak ada selainku yang beramal dengan amal perbuatanku, maka aku pun menyibukkan diri dengannya. Saya mengetahui bahwa Allah senantiasa mengawasiku, maka aku malu jika Dia melihatku sedangkan aku memaksiati-Nya. Saya pun mengetahui bahwa kematian sedang menantiku, maka aku pun menyiapkan bekal untuk perjumpaan dengan Rabb-ku.” (Arsyiifu Mutalaqqo Ahlil Hadits)

Akhirnya, kita memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala dari sifat tamak dan cinta dunia. Dan kita memohon kepada Allah Ta’ala agar hati kita selalu merasa cukup dengan rezeki yang telah Allah berikan. Sehingga kita menjadi orang yang kaya dengan hati yang merasa puas dan dengannya kita meraih kebahagiaan, harta karun orang mukmin.

[Roni Nuryusmansyah, Mahasiswa STDI Imam Syafi’i Jember]
Buletin Al-Istiqomah, Edisi Ke-2 Volume I Th. 1432 H / 2011 M.

di Publikasihkan kembali di http://www.moslemsubang.wordpress.com