Oleh: Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani Rahimahulloh

"Puasa adalah hari dimana kalian berpuasa, Al-Fithr adalah hari dimana kalian berbuka, sedang
Al-Adha adalah hari dimana kalian menyembelih kurban." At-Tirmidzi menilai "Hadits ini gharib hasan."

Al-Hafizh juga pernah meriwayatkan hadits Aisyah secara mauquf. Hadits itu ditakhrij oleh Al
-Baihaqi melalui jalur Abu Hanifah yang memberitakan:
"Telah meriwayatkan kepadaku Ali bin Al-Aqmar dari Masruq yang menceritakan:
"Saya hadir di hadapan Aisyah x pada hari Arafah. la berkata: "Berilah minum sawiq (sejenis minuman sari buah) kepada Masruq. Dan perbanyaklah manisannya." Masruq melanjutkan: "Saya lalu berkata: Sesungguhnya tidak ada yang menghalangi berpuasa. kecuali kekhawatiranku bahwa hari ini adalah hari Nahar, Aisyah menjawab: "Hari Nahar adalah hari dimana manusia menyembelih hewan kurban. Sedang Al-Fithr adalah hari dimana mereka berbuka."
Saya berpendapat: Sanad ini jayyid (bagus) dengan dukungan sanad sebelumnya.

Kandungan Hukumnya.
Imam Tirmidzi mengomentari hadits tersebut: "Beberapa ulama menafsirkan hadits tersebut dengan menjelaskan: "Arti hadits itu adalah puasa dan berbuka (tidak puasa) bersama jamaah dan mayoritas manusia."
Sementara Ash-Shan'ani di dalam Subulus-Salam menegaskan: "Hadits itu menunjukkan bahwa dalam menetapkan hari raya adalah berdasarkan kesepakatan mayoritas. Orang yang mengetahui hari raya secara individu. hams menyesuaikan dengan yang lain. Demikian pula dalam masalah shalat. berbuka. dan berkorban."

Ibnul-Qayyim menyebutkan pendapat yang senada di dalam Tahdzibus-Sun an (3/214):
Dikatakan: "Hadits itu mengandung sanggahan terhadap orang yang berpendapat bahwa seseorang yang mengetahui terbitnya bulan berdasarkan perhitungan (hisab) bukan ru'yah boleh puasa dan boleh tidak. dimana hal ini tidak berlaku bagi orang yang tidak mengetahuinya.
Ada pula yang mengatakan: Jika satu orang menyaksikan hilal, sedang hakim belum menetapkannya,
maka tidak boleh berpuasa, seperti kebanyakan orang."

Abul-Hasan As-Sanadi di dalam kitabnya Hasyiyah ala Ibni Majah setelah menyebutkan hadits
Abu Hurairah tersebut dari At-Tirmidzi menandaskan:
"Yang jelas makna hadits itu adalah bahwa perseorangan tidak memiliki pengaruh sedikitpun.
Mereka secara individual juga tidak diperbolehkan memegang pendapatnya sendiri. Masalah itu harus diserahkan kepada imam dan jamaah.

Dengan demikian, jika ada seseorang melihat hilal, namun ditolak (tidak diakui) oleh imam,
maka pendapatnya tidak bisa dipakai. Bahkan ia sendiri harus mengikuti imam dan jamaah.

Saya berpendapat: Makna inilah yang mudah dipahami dari hadits di atas. Hal ini diperkuat dengan
hujjah Aisyah x terhadap Masruq yang tidak mau berpuasa Arafah karena khawatir hari itu hari Nahar. Aisyah menjelaskan bahwa pendapat pribadi Masruq tidak bisa dipakai. Mau tidak mau Masruq harus mengikuti mayoritas. Aisyah menjelaskan: Nahar adalah hari. dimana manusia menyembelih
kurban. Sedang Al-Fithr adalah hari dimana mereka harus berbuka."

Saya berpendapat: Inilah yang sepantasnya dipakai dalam syari'at yang ramah ini, dengan maksud
untuk mempersatukan umat serta merapatkan barisan mereka. Islam tidak menghendaki umat bercerai berai hanya karena pendapat minoritas orang. Karena itu syari'at tidak akan memperhitungkan
pendapat individual, mengenai ibadah-ibadah yang dilakukan bersama-sama, meskipun mencapai kebenaran. Seperti puasa, hari raya. shalat berjamaah, dan Iain-lain. Anda bisa menyaksikan
bagaimana para sahabat bersedia shalat di belakang sebagian sahabat yang lain.

Di antara mereka ada yang berpendapat menyentuh wanita, keluarnya darah termasuk yang membatalkan
wudhu". ada pula yang tidak berpendapat demikian. Ada yang me-nyempumakan shalat di perjalanan, ada pula yang mengqasharnya. Namun perbedaan-perbedaan itu tidak menghalangi mereka untuk bersatu padu. shalat di belakang satu imam serta menerimanya. Hal ini dikarenakan mereka mengetahui bahwa berpecah-belah lebih buruk dibanding berbeda pendapat.

Ada seorang ulama terkemuka di Mina yang praktis pendapat pribadinya tidak dipakai. demi menghindarkan dampak negatif yang muncul.

Abu Dawud (1/307) meriwayatkan. bahwa Utsman melakukan shalat di Mina. Sebanyak empat raka'at. Kemudian Abdullah bin Mas'ud z memprotesnya tidak setuju: "Saya shalat bersama Nabi shalallahu alaihi wassalam dua raka'at. Tapi bersama Utsman pada awal kekhalifahannya empat raka'at. Sebab
itulah barangkali pendapat kalian menjadi berbeda -beda. Tapi saya lebih senang jika empat raka'at
itu dijadikan dua raka'at. Namun kemudian Ibnu Mas'ud melakukan shalat empat raka'at. sehingga
dikatakan kepadanya: "Engkau tidak menyetujui Utsman. tetapi engkau sendiri melakukan shalat
empat raka'at." Mendengar itu Abdullah bin Mas'ud menjawab: "Perbedaan pendapat adalah buruk." Sanad ini shahih. Imam Ahmad (5/155) juga meriwayatkan hadits yang senada dengan ini, dari Abu Dzar .

Maka hendaklah mereka yang selalu berpecah belah dalam shalat merenungkan lebih dalam lagi hadits dan atsar di atas. Juga mereka yang tidak bersedia mengikuti imam masjid. lebihlebih dalam masalah shalat witir pada bulan Ramadhan hanya karena menilainya tidak mengikuti madzhab yang dianut mereka. Ada pula orang yang karena tahu sedikit tentang ilmu falak kemudian melakukan puasa atau berbuka dengan waktu yang ditetapkannya sendiri, dan berbeda dengan yang dilakukan oleh mayoritas. la memakai pendapat pribadinya, tanpa mempertimbangkan pendapat mayoritas. Bahkan dengan tegas menyatakan tidak sama dengan mayoritas. Hendaknya mereka yang demikian itu merenungkan apa yang telah saya sebutkan, sehingga dapat mengobati kebodohan yang sebenaraya ada pada diri mereka sendiri. Supaya barisan umat Islam benar-benar rapat. Sebab ridha Allah ada di dalam jamaah.

Sumber : E Book Untaian Mutiara Hikmah
semoga Bermanfaat # Abu Sumayyah #