Posts from the ‘Fiqh’ Category

Hidup Bahagia Tanpa Riba (2)

KE ENAM: BAHAYA RIBA

Di antara bahaya riba adalah pelakunya diperangi oleh Allah dan RasulNya, dihapuskannya barakah dalam harta, jiwa, istri, dan anak-anak.
Menyebabkan tenggelam dalam hutang, terhalang dari ketenangan jiwa, menyebabkan tertimpa berbagai penyakit jiwa sebagai akibat dari kegelisahan, kesedihan dan memakan harta dengan cara yang batil, juga berarti menawarkan diri untuk mendapatkan murka Allah dan siksaNya, menyebabkan terjangkit penyakit hati menurut keterangan para dokter. Di antara bahaya riba juga adalah bahwa pelakunya biasa dikenal dengan sifat dusta, bersiasat, bakhil, menipu dan akan mendatangkan kefakiran dengan segera.

KE TUJUH: BEBERAPA BENTUK RIBA DAN ANDIL DI DALAMNYA

Di antaranya adalah: Pinjaman bank dengan bunga (riba) seperti untuk keperluan pernikahan, pembelian mobil, perdagangan, travelling, membangun dan lain-lain. Rekening Giro; Angsuran Cepat Dengan Bonus; Deposito Berbunga; Deposito Tanpa Bunga (di bank yang memberlakukan sistim riba, karena membantu keharaman); Jaminan Bagi Peminat Kredit; Penulisan; Persaksian; Pembayaran Dalam Masalah Bunga; Fasilitas-Fasilitas Kemudahan; Penyebaran Pengumuman; Pelaksanaan; Pengambilalihan: Semua ini dan juga selainnya yang masih banyak adalah merupakan sesuatu yang haram, dan para pelakunya berada di atas bahaya yang besar.

Catatan: Apa yang disebutkan di atas adalah contoh yang ada di negara penulis (Uni Emirat) atau sekitarnya, sedangkan di negara kita produk jasa yang ditawarkan oleh bank mungkin saja menggunakan nama-nama yang lainnya. Intinya adalah apa pun namanya kalau produk jasa yang ditawarkan adalah menggunakan sistim ribawi maka hukumnya adalah haram (pen).

KE DELAPAN:
TIPUAN SYETAN UNTUK MENJERUMUSKAN DALAM BELITAN RIBA

Pinjaman yang sangat mudah - Tanpa membayar cicilan pertama - Pinjaman Pribadi - Pinjaman Perdagangan - Pinjaman untuk Pembangunan - Pinjaman Dengan Spesifikasi Yang Tak Tertandingi - Tunggu Apa Lagi, Kami segera Berikan Jalan Keluar - Apakah Anda Memimpikan sesuatu... Kalau Begitu Kunjungi¬lah Kami Segera - Keuntungan Kami Telah Mencapai Sekian dan Sekian - Pinjaman Travelling - Pinjaman Pernikahan - Cicilan Yang Begitu Mudah -Berbahagia Bersama Kami dengan Penuh Kegembiraan - Pinjaman Keluarga.

Aku katakan kepadarnu wahai saudaraku, "Waspadalah dari tipu daya, makar, kejahatan dan siasat mereka. Jagalah agama kalian semua dan juga harta kalian, jangan sekali-kali propaganda seperti di atas menipu anda semuanya.
Baca selengkapnya…

Hidup Bahagia Tanpa Riba (1)

Penulis : Abu Abdirrahman Ali Khumais Ubaid

MEMO PENTING UNTUK PARA PRAKTISI RIBA

Segala puji hanya milik Allah -subhanahu wa ta’ala-, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi terakhir yang tidak ada nabi lagi seteIahnya. Amma ba'du:
Sesungguhnya orang yang memperhatikan realita kondisi kaum muslimin pada saat ini, maka dia akan mendapati bahwasanya masih banyak di antara mereka yang meremehkan atau menggampangkan masalah
riba, entah dengan memakannya, menjadi praktisi, menentukan hukum, mengambil pinjaman, menjadi saksi, penjamin, penulis, penganjur, pendorong atau pun pambantu dalam proses riba.
Seakan-akan urusan riba ini adalah merupakan satu kebolehan atau paling-paling merupakan hal yang makruh, atau hanya sebuah kemaksiatan kecil saja. Mereka tidak tahu bahwa ini termasuk perbuatan dosa besar yang Allah telah megumandangkan perang kepada para pelakunya di dunia dan akhirat, AIlah juga mengancam mereka dengan api neraka pada saat hari penghimpunan di hadapan-Nya. Dan yang lebih disayangkan lagi adalah, anda melihat
bahwa banyak dari mereka, baik tua atau muda bahkan para wanita yang penampilan mereka mencerminkan orang yang iltizam (konsisten) dengan ajaran Islam, namun tetap saja mereka terlibat dalam dosa besar ini, menganggap remeh hal tersebut dan bahkan mungkin berlombalomba menuju sana. Maka akhirnya mereka terbelenggu oleh hutang yang tidak ada yang tahu kecuali hanya Allah, sebagaimana mereka juga telah terbelenggu dengan kemarahan Allah aljabbar,
dengan laknatnya, dan kelak terbe-lenggu dengan siksanya jika mereka tidak mau bertaubat lalu taubatnya diterima oleh Allah.
Oleh karena itu maka aku memandang perlu untuk menyajikan di hadapan anda saudarasaudaraku fillah, beberapa ayat dan hadits-hadits Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, mudahmudahan akan mencegah dan menghalangi kita dari dosa besar, wabah penyakit berbahaya dan keburukan yang sangat nyata ini (riba).

PERTAMA:
AYAT-AYAT ALLAH MEMPERINGATKAN DARI RIBA

1. Pemakan Riba Ada di Antara Syetan dan Neraka
Allah -subhanahu wa ta’ala- berfirman,
“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya omng yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan. mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Rabbnya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah.
Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya." (QS. A1-Baqarah: 275)
Allah Tabaraka wa Ta'ala telah menjadikan pelaku riba tidak dapat berdiri pada hari kiamat kecuali berdirinya orang yang kesurupan setan lantaran tekanan penyakit gila, yakni ia seperti orang kerasukan. Ini salah atu hukuman bagi mereka, merupakan kehinaan dan keburukan yang sangat jelas. lalu Allah -subhanahu wa ta’ala- menegaskan dengan jelas keharaman riba dalam firman-Nya,
"Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba."
Selanjutnya Allah mengancam orang-orang yang tidak mau bertaubat dari riba setelah Allah rnengha¬rannkannya dengan ancaman api neraka, sebagaimana firman-Nya, “Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Rabbnya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang
larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya"
Maka para pelaku riba dalah penghuni nereka, kecuali jika Allah memberikan rahmatnya, dan Allah menerima taubatnya setelah mereka memohon am¬punan kepada Allah.
Baca selengkapnya…

Berhari Raya Dengan Siapa?

Sudah beberapa tahun ini, sering kali kaum muslimin di Indonesia tidak merasakan berhari raya bersama-sama. Mungkin dalam berpuasa boleh berbarengan, namun untuk berhari raya kadang kaum muslimin berbeda pendapat.

Ada yang manut saja dengan keputusan Departemen Agama RI (pemerintah). Ada pula yang manut pada organisasi atau kelompok tertentu. Ada juga yang mengikuti hari raya di Saudi Arabia karena di sana sudah melihat hilal. Ada pula yang berpegang pada hasil hisab dari ilmu perbintangan. Ada pula yang semaunya sendiri kapan berpuasa dan berhari raya, mana yang berhari rayanya paling cepat itulah yang diikuti.

Lalu manakah yang seharusnya diikuti oleh seorang muslim? Berikut kami bawakan beberapa fatwa Komisi Tetap Urusan Riset dan Fatwa Kerajaan Arab Saudi (Al Lajnah Ad Da’imah Lil Buhuts Al ‘Ilmiyah wal Ifta’). Baca selengkapnya…

PANDUAN SHALAT ‘IED


Hukum Shalat ‘Ied

Menurut pendapat yang lebih kuat, hukum shalat ‘ied adalah wajib bagi setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan yang dalam keadaan mukim (Lihat Bughyatul Mutathowwi’ fii Sholatit Tathowwu’, hal. 109-110)

Dalil dari hal ini adalah hadits dari Ummu ‘Athiyah, beliau berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada kami pada saat shalat ‘ied (Idul Fithri ataupun Idul Adha) agar mengeluarkan para gadis (yang baru beanjak dewasa) dan wanita yang dipingit, begitu pula wanita yang sedang haidh. Namun beliau memerintahkan pada wanita yang sedang haidh untuk menjauhi tempat shalat.” (HR. Muslim no. 890, dari Muhammad, dari Ummu ‘Athiyah).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Pendapat yang menyatakan bahwa hukum shalat ‘ied adalah wajib bagi setiap muslim lebih kuat daripada yang menyatakan bahwa hukumnya adalah fardhu kifayah (wajib bagi sebagian orang saja).
Adapun pendapat yang mengatakan bahwa hukum shalat ‘ied adalah sunnah (dianjurkan, bukan wajib), ini adalah pendapat yang lemah. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri memerintahkan untuk melakukan shalat ini. Lalu beliau sendiri dan para khulafaur rosyidin (Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman, dan ‘Ali, -pen), begitu pula kaum muslimin setelah mereka terus menerus melakukan shalat ‘ied.

Dan tidak dikenal sama sekali kalau ada di satu negeri Islam ada yang meninggalkan shalat ‘ied. Shalat ‘ied adalah salah satu syi’ar Islam yang terbesar. ... Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memberi keringanan bagi wanita untuk meninggalkan shalat ‘ied, lantas bagaimana lagi dengan kaum pria?” (Majmu’ Al Fatawa, 24/183). Baca selengkapnya…

PANDUAN ZAKAT FITHRI

Zakat secara bahasa berarti an namaa’ (tumbuh), az ziyadah (bertambah), ash sholah (perbaikan), menjernihkan sesuatu dan sesuatu yang dikeluarkan dari pemilik untuk menyucikan dirinya.

Fithri sendiri berasal dari kata ifthor, artinya berbuka (tidak berpuasa). Zakat disandarkan pada kata fithri karena fithri (tidak berpuasa lagi) adalah sebab dikeluarkannya zakat tersebut.(Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah, 2/8278).

Ada pula ulama yang menyebut zakat ini juga dengan sebutan “fithroh”, yang berarti fitrah/ naluri. An Nawawi mengatakan bahwa untuk harta yang dikeluarkan sebagai zakat fithri disebut dengan “ "fithroh” (Al Majmu’, 6/103.), Istilah ini digunakan oleh para pakar fikih.

Sedangkan menurut istilah, zakat fithri berarti zakat yang diwajibkan karena berkaitan dengan waktu ifthor (tidak berpuasa lagi) dari bulan Ramadhan. (Mughnil Muhtaj, 1/592.)

Hikmah Disyari’atkan Zakat Fithri

Hikmah disyari’atkannya zakat fithri adalah:
(1) untuk berkasih sayang dengan orang miskin, yaitu mencukupi mereka agar jangan sampai meminta-minta di hari ‘ied,
(2) memberikan rasa suka cita kepada orang miskin supaya mereka pun dapat merasakan gembira di hari ‘ied, dan
(3) membersihkan kesalahan orang yang menjalankan puasa akibat kata yang sia-sia dan kata-kata yang kotor yang dilakukan selama berpuasa sebulan.
(Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah, 2/8278 dan Minhajul Muslim, 230). Baca selengkapnya…

Kita Pasti Dapat Malam Lailatul Qadar Jika ….

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.

Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?

Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.

Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Rabb-nnya untuk mengatur segala urusan.

Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.”( Al-Qadr 1-5)

Setiap kita menjumpai bulan Ramadhan bulan yang penuh berkah, ada diantara malam-malamnya yang paling ditunggu-tunggu oleh kaum muslimin. Yaitu malam dimana Al-Quran diturunkan, malam yang lebih baik dari seribu bulan, malam dimana turun malaikat-malaikat dan malaikat jibril untuk mengatur segala urusan dan malam kesejahteraan sampai terbit fajar. Malam tersebut adalah malam Lailatul Qadar.

Semua kaum muslimin berlomba-lomba untuk mendapatkan malam tersebut, terutama pada malam-malam yang ganjil di sepuluh terakhir. Seperti yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam:

”Berusahalah mencari Lailatul Qadar pada malam ganjil dari sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan” (HR. Bukhori dan Muslim)

Kita Pasti Dapat Malam Lailatul Qadar Jika Qiyamul Lail pada seluruh 10 Malam Terakhir

Orang yang mendapatkan lailatul qadar tidak harus melihat tanda-tandanya atau mengalami suatu peristiwa. Abdullah bin mas’ud radliyallahu’anhu berkata:

”Barangsiapa yang qiyamullail selama setahun, ia pasti mendapatkan lailatul qadar.” (HR. Muslim)

Syaikh Utsaimin rahimahullah berkata: Siapa saja yang mengerjakan qiyamullail dengan penuh iman dan mengharap pahala, pasti akan mendapatkan ganjarannya, baik dia mengetahui bahwa malam itu lailatul qadar atau tidak, meskipun seandainya orang itu tidak mengetahui tanda-tandanya, atau tidak waspada dengannya dikarenakan tertidur atau sebab lain, akan tetapi dia telah mengerjakan qiyamullail dengan penuh iman dan mengharap pahala. Maka Allah pasti akan mengampuni dosanya yang telah lalu. Baca selengkapnya…

Menantikan Malam 1000 Bulan

Mengenai pengertian lailatul qadar, para ulama ada beberapa versi pendapat. Ada yang mengatakan bahwa malam lailatul qadr adalah malam kemuliaan. Ada pula yang mengatakan bahwa lailatul qadar adalah malam yang penuh sesak karena ketika itu banyak malaikat turun ke dunia. Ada pula yang mengatakan bahwa malam tersebut adalah malam penetapan takdir. Selain itu, ada pula yang mengatakan bahwa lailatul qadar dinamakan demikian karena pada malam tersebut turun kitab yang mulia, turun rahmat dan turun malaikat yang mulia.[1] Semua makna lailatul qadar yang sudah disebutkan ini adalah benar.

Keutamaan Lailatul Qadar

Pertama, lailatul qadar adalah malam yang penuh keberkahan (bertambahnya kebaikan). Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ , فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ

“Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al Qur’an) pada suatu malam yang diberkahi. dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” (QS. Ad Dukhan: 3-4). Malam yang diberkahi dalam ayat ini adalah malam lailatul qadar sebagaimana ditafsirkan pada surat Al Qadar. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.” (QS. Al Qadar: 1) Baca selengkapnya…