Posts from the ‘Manhaj’ Category

RAMADHAN Peringatan Bagi Persatuan Ummat

Oleh: Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani Rahimahulloh

"Puasa adalah hari dimana kalian berpuasa, Al-Fithr adalah hari dimana kalian berbuka, sedang
Al-Adha adalah hari dimana kalian menyembelih kurban." At-Tirmidzi menilai "Hadits ini gharib hasan."

Al-Hafizh juga pernah meriwayatkan hadits Aisyah secara mauquf. Hadits itu ditakhrij oleh Al
-Baihaqi melalui jalur Abu Hanifah yang memberitakan:
"Telah meriwayatkan kepadaku Ali bin Al-Aqmar dari Masruq yang menceritakan:
"Saya hadir di hadapan Aisyah x pada hari Arafah. la berkata: "Berilah minum sawiq (sejenis minuman sari buah) kepada Masruq. Dan perbanyaklah manisannya." Masruq melanjutkan: "Saya lalu berkata: Sesungguhnya tidak ada yang menghalangi berpuasa. kecuali kekhawatiranku bahwa hari ini adalah hari Nahar, Aisyah menjawab: "Hari Nahar adalah hari dimana manusia menyembelih hewan kurban. Sedang Al-Fithr adalah hari dimana mereka berbuka."
Saya berpendapat: Sanad ini jayyid (bagus) dengan dukungan sanad sebelumnya.

Kandungan Hukumnya.
Imam Tirmidzi mengomentari hadits tersebut: "Beberapa ulama menafsirkan hadits tersebut dengan menjelaskan: "Arti hadits itu adalah puasa dan berbuka (tidak puasa) bersama jamaah dan mayoritas manusia." Baca lebih lanjut…

Urgensi Pendidikan Islam Di Keluarga

Alloh subhanahu ta'ala berfirman : "Hai orang2 yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras yang tidak durhaka kepada Alloh terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan" (Qs At Tahrim 6)

Ibnu Abbas berkata ketika menafsirkan ayat ini, "Berbuatlah ketaatan kepada Alloh dan jauhi kemaksiatan, perintahkan kepada keluarga kalian untuk mempelajari al qur'an dan mengamalkannya niscaya Alloh akan menyelamatkan mereka dari api neraka"

Qotadah berkata "Perintahkanlah kepada keluarga kalian agar bertaqwa kepada Alloh, cegahlah mereka dari kemaksiatan, Pimpin mereka untuk melaksanakan perintah Alloh dan perintahkan mereka agar menjalankan perintahNya dan bantulah, jika kalian melihat mereka bermaksiat segera kalian peringatkan dan cegahlah"
Baca lebih lanjut…

As-Salafush-Shalih sebagai Rujukan dalam Memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah

Oleh: Syaikh Abdul-Malik bin Ahmad Ramadhani

Pengertian “Salaf”

Secara bahasa, Salaf berarti orang-orang yang mendahului kita, baik dari segi keilmuan, keimanan, keutamaan, maupun kebaikannya. Ibnul-Manzhur berkata; “Salaf juga berarti orang-orang yang mendahuluimu, baik orang tua maupun karib kerabatmu yang lebih tua dan utama darimu.” (1) Termasuk dalam pengertian ini apa yang telah dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada putrinya Fatimah az-Zahrah:

“Sesungguhnya sebaik-baik Salaf bagimu adalah aku.” (2)

Adapun yang dimaksud “Salaf” menurut istilah para ulama pada asalnya adalah para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian disertakan kepada mereka –dalam istilah tersebut- generasi sesudah mereka yang mengikuti jejak mereka (3).

Sedangkan menurut tinjauan waktu, maka “Salaf” maksudnya adalah generasi-generasi terbaik yang patut diteladani dan diikuti, yaitu tiga generasi pertama yang telah dipersaksikan keutamaannya oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya (yang artinya):
“Sebaik-baik umat adalah generasiku, kemudian generasi sesudahnya, kemudian sesudahnya lagi.”(4)

Namun, makna “Salaf” menurut tinjauan waktu ini masih belum cukup, karena kita melihat kemunculan firqah-firqah sesat dan bid’ah-bid’ah pada masa-masa tersebut, sehingga orang yang hidup pada masa tersebut tidak cukup dikatakan bahwa dia di atas manhaj Salaf sampai diketahui bahwa dia sejalan dengan para sahabat dalam memahami al-Qur’an dan as-Sunnah.

Oleh karena itu, para ulama menambahkan dengan istilah “as-Salaf ash-Shalih” (generasi Salaf yang shalih). Pada perkembangan selanjutnya istilah Salaf dinisbatkan kepada “orang-orang yang senantiasa menjaga aqidah dan manhaj hidupnya agar sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya Radhiallahu ‘anhum sebelum terjadi perpecahan dan perselisihan,” yaitu dengan munculnya beberapa macam firqah (kelompok islam sempalan).(5) Baca lebih lanjut…

Cara Memahami Islam dengan Benar

Oleh: Pengasuh Buletin an-Nur Yayasan al-Sofwa

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah menjadikan kita sebagai manusia yang terlahir dan besar dalam keadaan Islam. Ini merupakan nikmat terbesar yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan hanya pada orang-orang yang Dia kehendaki. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala (yang artinya):
"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. al-Maidah : 3)

Ibnu Katsir rahimahullah dalam mengomentari ayat ini mengatakan, bahwa ini (Islam) adalah nikmat terbesar Allah Subhanahu wa Ta’ala atas umat ini, yang mana Allah telah menyempurnakan agama ini bagi mereka. Maka mereka tidak lagi membutuhkan kepada agama selain Islam dan kepada Nabi selain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Oleh karena itu, Allah telah menjadikan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penutup para Nabi dan mengutus Beliau kepada manusia dan jin. Maka tidak ada lagi penghalalan kecuali apa-apa yang telah Beliau halalkan dan tidak ada lagi pengharaman kecuali atas apa-apa yang telah Beliau haramkan dan tidak ada yang merupakan bagian dari agama kecuali dengan apa-apa yang telah Beliau syari’atkan. Semua yang Beliau sampaikan adalah benar dan tidak ada kedustaan di dalamnya sedikit pun. Baca lebih lanjut…

MENGENAL ISLAM

Penyusun : Div. Risert Ilmiyah di Universitas Islam Madinah
Terjemah : Team Terjemah Div. Risert Ilmiyah
Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad

MENGENAL ISLAM

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Semoga shalawat dan salam tercurah untuk imam para rasul, nabi kita Muhammad, beserta keluarga dan para shahabatnya .

Islam adalah syari’at Allah terakhir yang diturunkan-Nya kepada penutup para nabi dan rasul, Muhammad bin Abdullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Islam merupakan satu-satunya agama yang benar . Allah tidak menerima dari siapapun agama selainnya . Dia telah menjadikannya sebagai agama yang mudah.
Allah tidak mewajibkan dan tidak pula membebankan kepada para pemeluknya hal-hal yang tidak sanggup mereka lakukan .

Islam adalah agama yang dasarnya tauhid, syi’arnya kejujuran, porosnya keadilan, tiangnya kebenaran, ruhnya (jiwanya) kasih sayang
Islam merupakan agama agung , yang mengarahkan manusia kepada seluruh yang bermanfa’at , serta melarang dari segala yang membahayakan bagi agama dan kehidupan mereka .

Dengan Islam Allah meluruskan ’aqidah dan akhlak , serta memperbaiki kehidupan dunia dan akhirat . Dengannya pula Allah menyatukan hati dan hawa nafsu yang bercerai-berai, dengan membebaskannya dari kegelapan kebatilan , dan mengarahkan serta menunjukinya kepada kebenaran dan jalan yang lurus .

Islam adalah agama yang lurus , yang sangat bijaksana dan sempurna dalam segala berita dan hukum-hukumnya . Islam tidak memberitakan kecuali dengan jujur dan benar , dan tidak menghukum kecuali dengan yang baik dan adil . Islam adalah : ’aqidah yang benar , amalan yang tepat , akhlak yang utama dan etika yang mulia . Baca lebih lanjut…

Tanya Jawab Bersama Ulama Markaz Imam Albani

TANYA JAWAB
Bersama Masyaikh Markaz Imam Albani

Transkrip dan Terjemah :
Abu Fairuz Ahmad Ridwan al-Madani
Ahmad bin Muhammad asy-Syihhi

Pada Dauroh Ilmiyyah bagi du’at Salafiyyah, tanggal 17-21 Maret 2002 Diselenggarakan oleh Ma’had Ali Al-Irsyad As-Salafi Surabaya

PERTANYAAN :
Apa pendapat anda dalam menanggapi maslak qiyas, apakah dia termasuk salah satu sumber selain Alquran dan as-Sunnah ?

Syaikh Masyhur Salman menjawab :
Masalah ini adalah permasalahan yang banyak membuat sesorang keliru pemahamannya dan tergelincir, namun jawaban yang rajih bahwa syariat ini memiliki illat (sebab dibuatnya hukum-pent)yang mu’tabarah (dianggap). Sebagaimana yang tertulis dalam surat Umar kepada Abu Musa Al-As’ari yang berbunyi: “Kenalilah sesuatu dengan hal-hal yang serupa dengannya maka engkau akan mengetahui kebenaran”.

Tetapi Qiyas bukan sumber yang independen layaknya Alquran dan As-Sunnah, dia hanyalah sebuah masdar taba’I (dasar yang mengikut )dibawah cakupan Alquran
dan As-sunnah. Kita paham dari Alquran dan As-sunnah adanya kaedah-kaedah umum dan ketentuan -ketentuan dasar ,maupun kaedah-kaedah fikih. Dengan itulah kita berusaha menyesuaikan hukum-hukum dengan menganalogikannya kepada kasus-kasus yang serupa. Dalam menyikapi Qiyas, manusia yang keliru terbagi menjadi dua kelompok yang bersebrangan: pertama adalah kelompok yang menolak qiyas secara total dan tidak manganggap bahwa syariat ini memililiki illat, memiliki hikmah bahkan mengingkari bahwa syariat ini ada yang ma’qulatul makna( dapat di rasionalkan.pent). kelompok ini adalah keliru. Baca lebih lanjut…

Untuk apa kita hidup?

Segala puji bagi Allah, Rabb seru sekalian alam, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, Yang Merajai pada hari pembalasan. Sholawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi akhir zaman, da’i yang menunjukkan kepada jalan yang lurus, yang menerangkan kepada umat manusia wahyu yang diturunkan kepada mereka, dan sosok teladan terbaik bagi segenap umat manusia. Amma ba’du.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Hai umat manusia sembahlah Rabb kalian, Yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian supaya kalian bertakwa.” (QS. al-Baqarah : 21). Beribadah kepada Allah merupakan sebuah amanah agung yang diletakkan di atas pundak segenap keturunan Adam alaihis salam dan juga saudara-saudara mereka dari bangsa jin. Inilah kewajiban terbesar umat manusia yang harus mereka tunaikan kepada Rabb mereka. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. ad-Dzariyat : 56). Allah ta’ala memerintah dan melarang (yang artinya), “Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.” (QS. an-Nisaa’ : 36).

Apa yang dimaksud dengan ibadah?
Setiap muslim yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya tentu mengetahui hal ini; bahwa mereka hidup adalah untuk beribadah kepada Allah semata. Namun, banyak orang yang terjerumus dalam kekeliruan dalam memaknai ibadah di dalam kehidupan mereka. Baca lebih lanjut…